RADAR JOGJA – Pakaian dengan motif kotak-kotak menjadi style fesyen yang tak ada matinya. Bahkan sejak zaman Belanda, motif ini sudah ada. Tidak diketahui asal-usulnya, perpaduan motif ini dinilai ramah mode. Bisa dikenakan siapa pun dan kegiatan resmi maupun pakaian keseharian.

“Motif kotak-kotak tersedia dengan beragam jenis, bahan kain, dan potongan baju. Namun yang paling tampak kualitas tinggi biasanya berbahan flannel,” ungkap Belga Bermawan, 30, pemilik Vano Thrift Shop di Pasar Beringharjo, Jogja saat ditemui Radar Jogja Jumat (1/7).

Bahkan saking digemari semua kalangan, untuk versi thriftnya, masih diburu konsumen pria maupun wanita. Peminatnya paling banyak remaja kuliahan. Namun tak sedikit juga dicari orang dewasa. Misal di tokonya. Paling tidak dua hari sekali pencari kemeja flannel ini mendatangi.

Meski pakaian bekas, kemeja motif kotak-kotak yang dia jual masih layak pakai, bahkan masih tampak baru. Hanya saja beberapa dijumpai kancing baju yang lepas. Sehingga harus jeli dalam memilihnya. Kendati begitu, kata Belga, semua yang berkaitan dengan kualitas baju menyesuaikan dengan banderolan harga. “Paling murah Rp 35 ribu. Paling mahal bisa Rp 200 ribu ke atas,” sebutnya.

Dikatakan murah bila kain flannelnya tipis. Sementara semakin tebal akan semakin mahal. Termasuk pada kecacatan baju. Bila terdapat kancing yang lepas tentu harganya turun. Untuk harga tinggi umumnya kain lebih tebal dan motifnya lebih bagus serta soft. Juga umumnya memiliki branding terkenal.

“Warna motif yang paling banyak disukai, ya warna gelap. Hitam, abu-abu, coklat gelap, biru tua, dan hijau tua. Tapi motif yang sering dicari anak muda jenis veterano, daya jualnya tinggi,” ujar pria asli Jogja ini. Vetereno merupakan jenis motif kotak dengan perpaduan gradasi yang lembut. Dengan warna-warna pastel.

Dia menceritakan, flannel dengan motif kotak-kotak dia beli secara paketan bersamaan jenis pakaian lainnya. Dalam satu karung biasanya terdapat 40-60 persen pakaian dengan motif kotak-kotak. Pakaian ini dipesan khusus dari Bandung, Pasar Senin Jakarta, maupun Bali. “Masih lokal Indonesia,” terangnya.

Disebutkan, ada berbagai jenis potongan kemeja yang dijual. Kemeja yang cenderung panjang seperti tunik dan bagian pinggang lebih slip, merupakan kemeja untuk perempuan. “Namun kecenderungan kemeja flannel di sini bisa digunakan untuk pria maupun wanita. Potongan bajunya universal,” bebernya.
Tidak hanya menjual kemeja flannel, pria yang memiliki dua outlet toko di Pasar Beringharjo ini juga menjual pakaian lain seperti prune, hoodie, kaos, celana kinos, celana cargo, kodorai, training. Juga ada pakaian gunung, rompi, sepatu, jaket outdoor, topi, dan lainnya. (mel/laz)

Jogja Raya