RADAR JOGJA – Distributor minyak goreng (migor) curah dipusingkan dengan kebijakan pemerintah pusat. Lantaran kebijakan dari satu kementerian dengan kementerian lainnya berbeda. Padahal, kebijakan yang dikeluarkan sama-sama mengatur tentang migor curah.

Distributor migor curah, Rengga Putra membeberkan, kantornya telah membuat aplikasi yang disesuaikan dengan aturan. Mengikuti Permendag No 33/2022 tentang Tata Kelola Program Minyak Goreng Curah Rakyat (MGCR). Permendag itu mengatur, setiap orang hanya diperkenankan membeli dua liter migor curah dalam sehari. “Eh kok muncul perubahan, habis Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pidato hari Jumat (24/6),” keluhnya kepada Radar Jogja Selasa (28/6).

Warga Prenggan, Kotagede, Kota Jogja ini mengungkap, kebijakan yang dilontarkan oleh Luhut mengintegrasikan pembelian migor curah dengan aplikasi PeduliLindungi. Tapi, kuota migor curah yang dapat dibeli perorangan mencapai 10 liter. “Masalah nanti pakai aplikasi kantor atau dari PeduliLindungi, kami belum tahu,” ujarnya.

Pria 25 tahun ini menyesalkan kebijakan pemerintah yang menurutnya berubah-ubah. Lantaran tidak adanya kesepahaman yang sama antarkementerian. Dia sebagai distributor, juga merasa telah meluangkan banyak waktu. “Tapi nggak tahu, nanti aplikasi kantorku bakal dipakai atau enggak,” ucapnya.

Sebagai pekerja, Rengga mengaku harus belajar penggunaan aplikasi yang dibuat oleh kantornya. Sebab, kantornya ditunjuk sebagai supplier migor curah. Kedua, Rengga pun harus mengajarulangkan sistem aplikasi yang dibuat kantornya. “Uji coba juga sudah,” cecarnya.

Uji coba pertama dilakukan oleh Rengga pada awal Juni. Prambanan jadi lokasi pertama yang dijadikan uji coba. Setelah berhasil, sistem ini diperluas di seluruh area di DIJ.

“Jadi dalam skenario kantorku, migor surah ini cuma masuk ke toko yang ditunjuk. Terus warga belinya pakai KTP. Nah, semua toko yang ambil dari kantorku pakai aplikasi. Jadi kalau dia mau beli dua kali itu nggak bisa,” jabarnya.

Rengga pun mengungkap, adanya perbedaan harga migor curah yang ditetapkan oleh Kemendag dan Kemenkomarves. Kemendag menetapkan harga supplier Rp 13 ribu, sementara Kemenkomarves menetapkan harga Rp 12,6 ribu. “Jadi kantorku belum memberi pertimbangan apapun tentang hal itu. Gek iki minyake wes teko neng kantorkuRak yo mung bingung,” ketusnya.

Sementara, Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam Pemda DIJ Yuna Pancawati menyatakan pentingnya pengawasan migor. Pihaknya bahkan menemukan, ada pedagang yang menjual migor curah di atas harga eceran tertinggi (HET). “Meski ketersediaan minyak goreng cukup,” lontarnya.

Sementara Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja Veronica Ambar Ismuwardani mencatat, ketersediaan pangan di wilayahnya mencukupi dari kebutuhan. Ketersediaan minyak goreng rata-rata mingguan 256,24 ton dengan kebutuhan rata-rata mingguan 153,74. “Harga minyak goreng curah Rp 15.500 per kilogram dan minyak goreng kemasan Rp 22.500-Rp 24.000 per liter dengan pasokan dari Semarang dan Surabaya,” paparnya. (fat/laz)

Jogja Raya