RADAR JOGJA – Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji meminta masyarakat tetap disiplin protokol kesehatan. Imbauan ini guna menanggapi angka kasus harian Covid-19 di Jogjakarta. Tercatat dalam beberapa hari terakhir angka kasus berada dikisaran belasan.

Aji tak menampik status PPKM Level 1 di Jogjakarta berdampak signifikan. Ditandai dengan melonjaknya angka kunjungan wisata di seluruh kabupaten dan kota. Melonjak drastis saat memasuki masa akhir pekan.

“Destinasi wisata, hotel penuh tentu wisatawan itu ada yang berwisata atau meeting. Pertama kaitannya pengamanan Covid-19, walau sudah status PPKM level 1, tapi tidak boleh kendor terhadap protokol,” jelasya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (27/6).

Munculnya kerumunan, diakui Aji menjadi momok tersendiri. Berdasarkan riwayat pengalaman masa lalu, lonjakan kasus Covid-19 di Jogjakarta berasal dari kerumunan. Baik masa liburan maupun kerumunan lainnya.

Adanya PPKM Level 1 membuat situasi menjadi lebih berbeda. Berupa tak ada syarat wajib melakukan tes kesehatan. Sehingga tidak terdeteksi adanya atau terjadi paparan Covid-19.

“Kerumunan ini sering tidak kita duga. Tidak ada screening dari orang berpergian. Dulu kasus positif itu hasil screening dari perjalanan, sekarang tak diwajibkan (PCR dan Antigen),” katanya.

Mantan Kepala Disdikpora DIJ ini mengingatkan agar masyarakat lebih disiplin. Termasuk para pengelola mal, restoran, tempat wisata maupun hotel. Agar senantiasa menggunakan aplikasi Peduli Lindungi sebagai syarat masuk.

Dalam beberapa kasus, Aji mendapati penerapan aplikasi ini kendor. Meski QR Code terpasang namun tak pernah dipindai. Termasuk tak adanya petugas penjaga di setiap pintu masuk ber-QR Code.

“Ada satu dua mal di tempat tujuan wisata (penggunaab Peduli Lindungi) sangat kendor. Destinasi wisata merasa outdoor tempat luas, lalu rumah makan, padahal kalau rumah makan kan rawan karena buka masker,” ujarnya.

Pihaknya konsisten melaksanakan screening di ruang publik. Salah satunya di kawasan Teras Malioboro. Pemeriksaan kesehatan secara acak berlangsung dalam beberapa hari sekali.

“Rencana screening ini tetap jalan. Tapi yang terpenting itu masyarakat yang datang harus peduli jangan dipaksa baru patuh,” pesannya.(Dwi)

Jogja Raya