RADAR JOGJA – Meski berhadapan dengan hukum, anak usia sekolah harus tetap melanjutkan pendidikannya. Ini untuk mencegah terjadinya tindak kejahatan jalanan di Jogja. Sebab, hampir 80 persen anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang dibina di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) tidak bersekolah.

Kepala LPKA Jogjakarta Teguh Suroso mengatakan mayoritas kasus ABH yang ditangani adalah kejahatan jalanan. Lainnya didominasi perlindungan anak yakni pelecehan seksual dan sisanya dua orang karena obat-obat terlarang. “Jadi anak-anak yang masuk di tempat kami hampir 80 persen anak tidak sekolah,” katanya usai acara Ekspose Hasil Kajian Kenakalan Anak di Jalanan, di Kompleks Kepatihan Rabu (22/6).

Teguh menjelaskan ABH yang dibina kurang lebih 25 anak. LPKA mempunyai target setidaknya 50 persen anak yang dibina harus bersekolah. Pihaknya sudah memiliki tim personel untuk menjemput bola, agar anak yang sudah bersekolah tetap dipertahankan. Terpaksa pun tidak bisa dipertahankan, LPKA bekerjasama dengan sekolah SMP, SMA yang mau membina para ABH. “Sama SKB dan PKBM di DIJ sudah menerima semua. Ini ada enam anak yang nggak sekolah, ada satu anak nggak sekolah orang tua tanda tangan bahwa akan menyekolahkan setelah keluar dari sini, karena pidananya pendek hanya enam bulan,” ujarnya.

Menurutnya, dalam ranka mengatasi kejahatan jalanan dibutuhkan sinergitas dengan berbagai pihak. Terutama orang tua, harus selalu memantau pergerakan anak setiap hari. “Waktunya pulang kok belum pulang, malam kok belum pulang kenapa,” jelasnya.

Selain itu, sekolah juga ikut membantu dengan memberitahukan kepada orang tua jika mendapati ada siswa yang membolos sekolah. Dengan upaya ini, diharapkan bisa mencegah anak-anak bertemu dengan kelompok yang membawa pengaruh buruk. “Kalau di luar ketemu kelompok yang luar biasa, yang nyambung dengan dia, disanjung, dan sebagainya. Jadinya malah besar disitu,” terangnya.

Kendati begitu, upaya terus dilakukan LPKA agar hal-hal buruk itu tidak terjadi. Gayung bersambut, pada 2021 lalu sudah 100 persen anak binaannya berhasil melanjutkan sekolah. Tinggal enam anak yang baru hendak didaftarkan. Dikatakan, anak-anak dari luar diklaim tidak bersekolah. Maka pihaknya jemput bola agar sekolah mau mempertahankan siswanya. “Alhamdulillah mulai bertahap sekolah negeri khususnya masih mempertahanka, jadi jangan sampai dikeluarkan yang penting dipertahankan disitu,” tambahnya. (wia/pra)

Jogja Raya