RADAR JOGJA – Pedagang di Teras Malioboro (TM) 1 masih mengeluhkan sepinya pembeli. Dalam seminggu, kerap hanya di akhir pekan saja dagangannya laku. Lantaran kunjungan hanya ramai saat masa liburan.

Seorang pedagang di TM 1 yang mengungkapkan dagangannya sepi adalah Durairoh. Dalam seminggu, bisa sampai empat hari dia pulang tanpa hasil. “Kadang seminggu cuma laku sekali, sepi bener,” ujarnya kepada Radar Jogja di lapaknya Selasa (21/6).

Perempuan 50 tahun ini mengatakan, pengunjung yang datang kebanyakan hanya melihat-lihat. Terlebih saat di hari kerja, Senin-Jumat. “Ramai hanya Sabtu-Minggu. Selain itu sepi. Itu pun paling cuma laku Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu,” tandasnya.

Padahal, untuk buka lapak, Durairoh juga membutuhkan modal. Seperti uang bensin dan makan. Untuk itu, pedagang berlapak di lantai satu ini terpaksa menggunakan uang tabungannya, agar tetap mampu bertahan hidup. Dia pun mengharapkan adanya upaya promosi terdahap TM I dari pemerintah. “Kami pengen laku terus. Diundang wisatawan agar datang ke sini,” ujarnya.

Wisatawan berkunjung ke TM I untuk berswafoto (21/6).(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)

Beranjak ke lantai 2, ada Toni Kuswoyo yang juga mengeluhkan hal senada. Warga Sleman ini mengaku kerap baru dapat menjual dagangan pada pukul 17.00 saat akhir pekan. Sementara pada hari Senin hingga Jumat, dagangannya sepi pembeli. “Padahal sudah buka dari pukul 09.00. Tekor,” ketus pria 40 tahun itu.

Terpisah, Hertini justru mempertanyakan keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di pedestrian Malioboro. Wisatawan asal Purworejo, Jawa Tengah, ini sengaja mampir ke Jogja untuk membeli batik sebagai kenang-kenangan sebelum pensiun.

Dia mengaku belum tahu kalau para PKL sudah dipindahkan ke TM 1 dan TM 2. “Malioboronya sepi, ya udah saya belanja di Beringharjo saja. Ini makan soto dulu, terus lanjut ke Klaten,” lontarnya.

Sementara seorang wisatawan lain yang tidak menyebutkan namanya mengaku sudah tahu keberadaan TM 1 dan TM 2. Tapi, dia lebih memilih untuk berbelanja ke Pasar Beringharjo. Perempuan asli Pagaralam, Sumatera Selatan, ini mengaku lebih percaya untuk belanja di Pasar Beringharjo.

“Kayaknya lebih murah di Beringharjo. Kalau melihat dari bangunannya ya. Terus pedagang yang di Beringharjo kan asli Jogja,” ujarnya. (fat/laz)

Jogja Raya