RADAR JOGJA – SLB Negeri Pembina Jogjakarta menggelar penerimaan peserta didik baru (PPDB) secara langsung tahun ini. Sebab, SLB butuh melakukan asesmen terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK), dalam menentukan karakter dan keterampilan ABK.

Waka Humas SLB Negeri Pembina Jogjakarta Hedwigis Dian Permatasari menjelaskan, PPDB sekolahnya sangat bergantung pada asesmen calon peserta didik. Lantaran hasil asesmen menjadi acuan dalam mengetahui karakter dan kemampuan peserta didik. “Jadi peserta didik harus diajak ke sekolah untuk mengetahui kemampuan dan karakternya,” ujarnya saat diwawancarai Radar Jogja Selasa (21/6).

Hedwigis menjabarkan, setiap ABK memiliki karakter yang berbeda. Untuk dapat mengenalinya, harus dilakukan melalui asesmen. “Sehingga nanti ketika sudah diterima di sini, para guru betul-betul bisa memberikan pelayanan sesuai karakteristik dan kebutuhan peserta didik,” ungkapnya.

Dalam asesmen juga diketahui, apakah ABK sudah terkondisi sesuai dengan kelas tertentu. Didapati informasi pula, ABK membutuhkan kelas transisi atau tidak. “Supaya nantinya dia (ABK, Red) terkondisi ketika di dalam kelas,” paparnya.

Terlebih, SLB Negeri Pembina Jogjakarta menjalankan kelas dengan sistem rombel keterampilan vokasi. ABK harus dipastikan benar-benar mampu untuk mengikuti kelas dengan keterampilan tertentu. “Di sini ada 10 keterampilan vokasi. Nanti anak ini, berdasar asesmen (diketahui, Red) mempunyai kemampuan di keterampilan yang mana,” jabarnya.

Sepuluh keterampilan vokasi yang diajarkan meliputi kecantikan, tata graha, tata busana, tekstil, perkayuan, otomotif, keramik, tata boga, TIK, dan pertanian. Penjurusan dilakukan sejak jenjang SMP. “Tapi sejak SD, mereka sudah ada prakarya dan pra-vokasi guna persiapan,” tegasnya.

Fungsi lain dari asesmen adalah mengetahui jenis difabel dari ABK. Lantaran SLB Negeri Jogjakarta hanya menerima jenis difabel autis dan tuna grahita. Untuk mengetahuinya, ABK akan dilakukan tes IQ. “Kalau ada jenis difabel lain, kami rekomendasikan ke sekolah lain,” ujarnya.

Bertolak pada dua tahun pelaksanaan PPDB sebelumnya, Hedwigis menyebut sekolahnya tetap harus melakukan pendampingan terhadap wali murid. Kendati PPKM masih diterapkan dengan ketat. “Kami gelar blended, karena tetap membutuhkan asesmen dan pendampingan,” sebutnya.

Terpisah, Waka Kesiswaan SMPN 3 Kota Jogja Ahmad Suryani mengaku sekolahnya tidak mendapat kuota ABK dalam tahun ajaran baru selama pandemi Covid-19. Sekolahnya terakhir menerima ABK pada tahun ajaran 2019/2020. “Pada tahun ajaran 2019/2020 ada dua ABK, saat ini sudah lulus. Tapi dua tahun terakhir tidak ada,” ucapnya. (fat/laz)

Jogja Raya