RADAR JOGJA – Tidak semua orang peka terhadap dunia literasi. Namun, usaha Budi Susilo bersama kawan-kawannya patut diapresiasi. Di tengah gempuran teknologi, dia berusaha menggiatkan anak-anak di kampungnya agar melek literasi. Satu di antaranya dengan mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM) Omah Buku.

NAILA NIHAYAH, Magelang, Radar Jogja

Berdiri di atas lahan milik desa dan gedung bekas Poli Bersalin Desa (Polindes) Blondo, kemudian dialihfungsikan sebagai Taman Baca Masyarakat (TBM) Omah Buku, ternyata membawa dampak positif kepada masyarakat. Khususnya anak-anak di desa itu.

Mereka yang kerap bermain di luar rumah, menjadi lebih terfasilitasi dengan adanya TBM Omah Buku. Meskipun di sana juga sering bermain dengan anak-anak lain. Tidak semuanya membaca buku.

Penggagas berdirinya TBM Omah Buku Budi Susilo menceritakan, dulu ia memang sering melihat anak-anak bermain di sekitar rumahnya dan di jalanan. Mulai dari siang hingga sore. Sehingga terbesitlah ide untuk membuat tempat sejenis tongkrongan untuk mereka agar lebih leluasa berekspresi dan berkreasi.

Meskipun hanya sekadar berisi hiburan seperti nonton film bareng maupun membaca buku di suatu tempat. Pada 2016, Budi memulainya dari poskamling. Dia meletakkan beberapa buku di sana. Saat ada penilaian poskamling, banyak yang mengapresiasi adanya buku-buku di sana.

Buku-buku dan majalah itu dimaksudkan agar petugas ronda bisa membacanya. Lantas pada siang hari, giliran anak-anak yang akan membaca. “Awalnya hanya ada 100-an buku. Itu saja saya minta sama masyarakat atau teman saya di sekitar sini untuk menyumbangkan buku-buku yang tidak dipakai,” ujarnya saat ditemui (6/6).

Dia ditawari oleh pemerintah desa untuk menempati bangunan milik desa bekas polindes yang sudah tidak ditempati. Namun dia juga mempertimbangkan biaya perawatan bangunan, pasokan buku, listrik, air, dan lain sebagainya.

Alhasil, pemerintah desa bersedia memberikan dukungan operasional. Pada 2017, pos baca yang berada di poskamling itu resmi pindah. Di tahun itu juga, TBM Omah Buku mendapat bantuan anggaran dari Desa Blondo sebesar Rp 13 juta. Dana itu digunakan untuk merehabilitasi bangunan, pengadaan sarana baca, permainan, dan lain-lain.

Hingga kini sudah lebih dari 5.000 eksemplar buku menghiasi rak-rak tinggi. Berjajar memenuhi ruang. Ruangan itu juga dikreasikan sekreatif mungkin untuk menarik minat anak-anak untuk singgah.

Buku-buku tersebut tentu tidak semua dibeli dengan anggaran desa. Justru banyak masyarakat maupun relawan yang ikut andil menyumbangkan puluhan hingga ratusan buku. Baik majalah, buku sekolah, dongeng, Alquran, buku gambar, dan masih banyak lagi.

“Yang paling banyak dari sumbangan personal teman sekolah dulu maupun teman kerja. Apa aja yang kira-kira nganggur, saya minta saja nanti baru dipilih di sini,” papar guru SLB-B YPPALB Magelang ini.

Selain menawarkan buku bacaan, kegiatan di TBM Omah Buku beragam. Mulai dari lomba puisi, dongeng, pantomim hingga latihan berbagai keterampilan. Seperti pelatihan membuat ecoprint maupun membuat karya dari barang bekas limbah botol plastik.

Tidak hanya itu, Budi juga kerap mengajak anak-anak untuk berekreasi edukasi. Seperti mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Kabupaten Magelang. Yakni candi-candi dan situs-situs purbakala lainnya.

Di TBM Omah Buku juga menyediakan permainan-permainan tradisional. Jadi, anak-anak tidak hanya sekadar membaca, tapi keguyubrukunan dan kekompakan mereka akan terus terjalin. “Ada yang ke sini tujuannya baca buku, ada juga yang bermain. Tergantung dari mereka dan di sini juga terbuka untuk umum,” jelasnya.

Budi menjelaskan, selain anak-anak bisa membaca di TBM Omah Buku, mereka juga bisa meminjamnya. Hal itu lantaran jam operasional terbilang terbatas. Untuk Senin-Sabtu, TBM akan buka pukul 16.30-18.00, sedangkan Minggu pukul 10.00-13.00. Pasalnya, Budi dan lima rekan lainnya juga memiliki kesibukan masing-masing.

Dia juga memperbolehkan anak-anak untuk memiliki buku pelajaran yang ada di TBM Omah Buku. Tidak perlu dikembalikan. Karena hal itu juga berkaitan dengan kebutuhan sekolah.

Budi berharap, dengan adanya TBM Omah Buku ini memberikan kesadaran kepada masyarakat, khususnya anak-anak untuk lebih peduli terharap literasi. Pasalnya, bisa dibilang, minat baca orang Indonesia tergolong rendah.

Menurutnya, selama ini yang jadi masalah bukan minat bacanya, tetapi ketersediaan fasilitas untuk membaca. Untuk itu, keberadaan taman baca maupun perpustakaan perlu ditingkatkan. Sebenarnya, setiap desa juga memiliki potensi untuk mengembangkan TBM, namun upaya dan dayanya kurang maskimal. (laz)

Jogja Raya