RADAR JOGJA – Sampah apabila dikelola oleh tangan yang tepat, tak jarang justru mendatangkan keuntungan. Hal inilah yang dilakukan Suratno, warga Padukuhan Siten, Sumbermulyo, Bambanglipuro. Melalui bank sampah yang dikelolanya, ia bisa memberdayakan masyarakat dengan capaian omzet jutaan rupiah per bulannya.

IWAN NURWANTO, Bantul, Radar Jogja

Suasana Bank Sampah Gerbang Pilah di Padukuhan Siten begitu ramai pada Rabu (25/5) lalu. Terlihat banyak ibu-ibu tengah sibuk memilah sampah. Mereka memisahkan sampah-sampah menjadi beberapa bagian. Ada sampah botol, sampah kemasan makanan dan sabun, hingga limbah seperti mantol bekas dan karung beras.

Bank Sampah Gerbang Pilah diketuai Suranto sejak 2019 lalu. Kegiatan di tempat ini tak jauh berbeda dengan bank sampah pada umumnya. Yakni memilah sampah pada jenis tertentu yang kemudian hasilnya dijual kepada pihak tertentu, agar bisa didaur ulang. Upaya ini memang cukup efektif untuk mengurangi produksi sampah yang dibuang ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan.

Namun, selain memilah sampah, bank sampah ini ternyata juga aktif mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM). Dampaknya pun lumayan untuk mengurangi sampah plastik yang dibuang oleh masyarakat sekitar dan menguntungkan sampai jutaan rupiah karena hasil pengolahannya bisa dijual.
“Melalui bank sampah ini, kami juga turut membantu pengelolaan sampah dari padukuhan lain. Karena nasabah kami ada di dua padukuhan, yakni Padukuhan Siten dan Sidomulyo,” ujar Suratno kala ditemui Radar Jogja beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, dalam sebulan setidaknya bank sampah yang dikelola bisa menghasilkan omzet Rp 5 juta-Rp 6 juta per bulan. Jumlah ini berasal dari penjualan sampah daur ulang serta pengolahan sampah plastik menjadi BBM. Khusus untuk produksi BBM dari sampah plastik, prosesnya sendiri melalui metode penyulingan atau destilasi menggunakan alat bantuan salah satu universitas di Jogjakarta bernama pirolisis.

Dijelaskan Suratno, untuk mengubah sampah plastik menjadi BBM, mula-mula sampah plastik dimasukkan ke dalam alat pirolisis. Kemudian sampah disuling dengan suhu 400 derajat celcius hingga menghasilkan tetesan minyak. Hasil minyak itu kemudian langsung bisa digunakan untuk bahan bakar kompor minyak tanah.

Dengan kapasitas mesin sebesar 20 kilogram, dalam sebulan Bank Sampah Gerbang Pilah setidaknya bisa menghasilkan minyak tanah 80 liter. Hasilnya kemudian dijual kepada masyarakat dan anggota seharga Rp 10 ribu per liter. Jika dihitung bulanan, dari hasil pengolahan minyak tanah berbahan dasar sampah plastik itu setidaknya sampai Rp 800 ribu.

Mengenang masa sebelum masyarakat Padukuhan Siten aktif mengolah sampah, Suratno menceritakan dulunya masyarakat padukuhan harus membayar biaya pengambilan sampah Rp 400 ribu per bulan. Namun setelah bank sampah cukup aktif, masyarakat tidak pernah lagi membuang sampah ke TPST Piyungan, karena sampah selalu habis di desa.

Di sisi lain, masyarakat yang menjadi anggota bank sampah pun juga mendapat upah sebesar Rp 30 ribu per hari atau bulanannya bisa mencapai Rp 900 ribu. “Dulu kami yang bingung mengatasi sampah karena banyak berserakan di jalan. Tapi sekarang malah memperoleh pemasukan dari sampah,” ungkap Suratno.

Salah seorang anggota bank sampah, Sumariyem mengaku sangat diuntungkan dengan aktivitas pengolahan sampah itu. Pasalnya, selain bisa mendapat upah karena bekerja di Bank Sampah Gerbang Pilah, ia juga turut terbantu dengan hasil pengolahan sampah plastik menjadi minyak tanah. “Alhamdulillah bisa turut membantu untuk ganti kompor gas. Terlebih ketika tidak punya uang untuk beli gas,” bebernya. (laz)

Jogja Raya