RADAR JOGJA – Jenazah Buya Syafii Maarif dimakamkan di Taman Makam Husnul Khotimah Muhammadiyah, Dusun Dukuh, Kalurahan Donomulyo, Kapanewon Nanggulan, Kulonprogo, Jumat (27/5). Prosesi pemakaman dilaksanakan secara sederhana, diikuti segenap keluarga dan kerabat.

Jenazah guru bangsa kelahiran Kecamatan Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatera Barat, 31 Mei 1935 ini dibawa menggunakan mobil jenazah dengan nomor polisi AB 9055 A. Ikut mengiring, sang istri Nurkhalifah yang mengenakan setelan baju warna coklat dan jilbab berwarna biru. Juga anak dan cucu mengenakan setelan baju warna putih. Semua tersimak cukup kehilangan dan sedih.

Tempat peristirahatan terakhir tokoh bangsa ini atas permintaan almarhum Buya Syafii. Pemerintah sebetulnya menginginkan beliau untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Namun sebelum berpulang, Buya Syafii sudah berkeinginan dan berpesan untuk bisa dimakamkan di tempat pemakaman umum di Kulonprogo. “Beliau memang menghendaki dimakamkan di sini,” ucap Wakil Ketua Pelayanan Rukti Jenazah Husnul Khatimah Umar Said Prawoto.

Dijelaskan, kompleks Taman Makam Husnul Khatimah sudah ada sejak dua tahun terakhir. Kompleks pemakaman ini berada di perbukitan dan dikelilingi pepohonan rindang, luasnya mencapai satu hektare, terisi sekitar 25 makam. Sebelum wafat, Buya Syafii sempat mendatangi kompleks pemakaman itu.

Taman Makam Husnul Khotimah Muhammadiyah memang diperuntukkan bagi warga dan para tokoh Muhammadiyah. Kompleks makam ini menjadi alternatif saat Makam Karangkajen, Kota Jogja, saat ini kondisinya memang sudah penuh. “Kala itu, ketika Buya datang ke kompleks makam ini menyatakan tertarik. Lalu beliau ingin ketika Allah memanggil (meninggal, Red), bisa dimakamkan di sini saja,” jelasnya.

Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah Khoiruddin Bashori mengungkapkan hal senada. Permintaan untuk dimakamkan di Taman Makam Husnul Khatimah bahkan sudah didengarnya sejak sebelum Ramahan 1443 H/ 2022.

“Ya, beliau memang sudah berpesan, ingin dimakamkan di sini. Andaikata orang lain mungkin lebih memilih dimakamkan di TMP dan bisa dikenang sebagai pahlawan. Namun Buya dengan kontribusinya luar biasa tetap ingin dikenang sebagai Buya yang tinggal di Nogotirto. Dikenang sebagai orang biasa, itulah kekhasan Buya, sederhana sekali orangnya,” ungkapnya.

Ditambahkan, sebagai tokoh bangsa yang memiliki reputasi internasional, semua tetap dilakukannya sendiri. Pembantu di rumah tidak punya, mengemudikan mobil, mencuci, membersihkan rumah dilakukan sendiri. Sebagai pribadi yang mandiri dan sederhana, Buya Syafii sudah menjadi idola.

“Kalau saya pribadi, beliau memiliki jasa dan berjasa yang luar biasa. Dulu waktu S1 dan menjadi aktivis, Buya sempat menanyakan kuliah saya, selesai atau belum. Buya dengan gayanya yang khas, kemudian bilang kalau kamu jenius tidak usah diselesaikan kuliahnya. Tetapi kalau kamu merasa masih biasa seperti saya, selesaikan! Saat itu saya langsung tergugah, menyelesaikan kuliah, jalan hidup saya telah berubah, lebih konsen ke pendidikan,” ungkapnya.

Menurutnya, dirinya hanya satu dari puluhan bahkan ratusan pribadi yang pernah bertemu dan menerima pesan dan nasihat langsung dari Buya Syafii. Buya juga tidak pernah lelah membimbing anak-anak muda, tidak saja agar bisa bermanfaat bagi Muhammadiyah, umat dan bangsa. Melainkan bermanfaat bagi kemanusiaan. “Komitmen beliau adalah kemanusiaan, sosok dan tokoh humanistik, Buya luar biasa,” ucapnya.

Satu kenangan yang masih melekat, pernah suatu ketika Buya mengalami kecelakaan saat hendak menyampaikan kabar kepada temannya yang ingin memberangkatkan umrah salah satu marbot Masjid Syuhada. Dari Nogotirto naik bus dan ketika turun, Buya tertabrak sepeda motor. Sempat dibawa ke rumah sakit.

“Nah waktu itu saya dan teman-teman berinisiatif, bagaimana Buya difasilitasi sopir, karena sampai usia senja beliau tetap nyetir sendiri ke mana-mana, saya berusaha matur ke Buya pasca kecelakaan waktu itu untuk menyediakan sopir. Beliau hanya menyampaikan, terima kasih tetapi nanti saja ya kalau saya sudah invalid. Intinya tidak mau, apa-apa semua memang dilakukan sendiri,” kenangnya.

Bicara integritas, lanjut mantan rektor UMY ini, Buya juga salah satu tokoh yang selalu menegaskan jangan sampai pecah kongsi antara kata dan perbuatan. Jujur sejak dalam pikiran, apa pun yang dikatakan tidak tedeng aling-aling.
“Jika menurut beliau benar, maka akan dikatakan benar. Salah, menurutnya salah, maka akan dikatakan salah. Kepada siapa pun, sahabat, presiden, atau orang yang mungkin didukungnya, ketika menurunya ada yang tidak pas dan salah, akan disampaikan, tanpa kepentingan,” tandasnya. (tom/laz)

Jogja Raya