RADAR JOGJA – Perjuangan Dwi Karti Handayani dalam menaikkan pamor kuliner wedang uwuh, patut diapresiasi. Bagaimana tidak, dalam tiga tahun terakhir lulusan Magister Manajemen ini fokus mendaftarkan wedang uwuh ke indikasi geografis sebagai warisan kuliner tradisional asli Bantul. Ia juga rutin mengembangkan kemasan wedang uwuh agar bisa naik kelas.

IWAN NURWANTO, Bantul, Radar Jogja

Wedang uwuh sudah lama dikenal sebagai minuman tradisional di Jawa. Menurut legendanya, minuman berwarna merah pekat yang memiliki khasiat untuk menghangatkan badan itu dulunya merupakan minuman raja-raja Mataram. Dengan sejarah itu, wedang uwuh tidak akan lepas dari image tradisional.

Meskipun terkesan tradisional, mengenalkan wedang uwuh ke kancah internasional merupakan salah satu misi perempuan asal Imogiri, Bantul, ini. Berbagai cara pun dilakukan oleh Dwi, salah satunya dengan menggagas indikasi geografis wedang uwuh sebagai warisan kuliner asal Bantul. Upaya ini sudah dilakukan sejak 2019 dan berharap di tahun ini bisa muncul sertifikasi resminya.

Bukan tanpa alasan, gagasan indikasi geografis itu akan menjadi dasar kepemilikan Bantul terhadap kuliner wedang uwuh. Sertifikasi indikasi geografis itu pun bakal penting untuk menjaga kuliner wedang uwuh supaya diklaim menjadi budaya negara lain.

Ia sendiri juga miris karena banyak budaya asli Indonesia yang diklaim negara tetangga. Dalam upaya itu, Dwi tak sendiri karena ia membersamai 48 produsen wedang uwuh di Jogjakarta yang memperjuangkan indikasi geografis tersebut.
“Kesulitannya adalah membuktikan jahe sebagai bahan baku asli dari Bantul. Namun kami terus berjuang dan insya Allah tahun ini indikasi geografis wedang uwuh akan diperoleh,” tegas Dwi saat dikonfirmasi Radar Jogja kemarin (17/5).

Selain ingin menegaskan wedang uwuh sebagai kuliner asli Bumi Projotamansari, alumni Fakultas Pertanian UNS ini juga punya tekad besar untuk meningkatkan pamor wedang uwuh. Salah satu caranya dengan mengubah kemasan wedang uwuh menjadi lebih modern, supaya bisa diterima supermarket hingga hotel.

Dwi mengatakan, dengan nama brand Wedang Uwuh Den Bagus, ia membuat minuman tradisional itu dikemas menggunakan kardus serta desain menarik. Dampaknya pun signifikan, karena wedang uwuhnya kemudian diminati hingga ke beberapa negara seperti Malaysia dan Singapura.
“Selama ini wedang uwuh memang memiliki image tradisional karena kemasannya yang masih sangat sederhana. Saya punya misi agar wedang uwuh go international,” tekadnya. (laz)

Jogja Raya