RADAR JOGJA – Rina Kurniyati, pelukis perempuan berusia 47 tahun ini menggunakan kaca sebagai media lukisnya dan cat besi. Padahal, media ini dikenal rapuh dan pengerjaannya tergolong rumit.

WULAN YANUARWATI, Sleman, Radar Jogja

“Kenapa kaca, karena terkesan rapuh dan licin. Jadi saya menantang diri saya sendiri bagaimana berkarya maksimal di media yang licin dan mudah pecah itu,” ujarnya kepada Radar Jogja (26/4).

Ditambah melukis dengan media kaca membutuhkan waktu lama. Belum lagi teknik melukisnya dari belakang. Sehingga, dituntut memiliki konsentrasi yang tinggi.

“Memang medianya rapuh, mudah pecah. Kemudian permukaan licin dan teknik melukisnya dari belakang. Catnya di belakang kaca termasuk kalau bikin tulisan ya terbalik,” jelas perempuan yang tinggal di Jalan Godean, Sleman, ini.

Perempuan yang tidak pernah mengenyam pendidikan seni lukis ini menceritakan awal mula melukis di kaca seringkali terluka. Namun kegigihan dan keuletannya terbayar dengan tuntas saat melihat hasilnya.
“Pernah pecah dan berkali-kali tangan saya terluka karena pinggiran kaca yang tajam. Tapi ketika berproses 1-3 bulan paling lama 5 bulan. Ketika selesai saya tidak langsung melihat jadi saya tunggu tinggal 5-6 hari. Di situ saya kaget lho bisa bikin,” jelasnya.

Proses menunggu beberapa hari dilakukan karena hasilnya tidak bisa langsung dilihat dan dinikmati. Cat bertumpuk di belakang media sehingga hanya bisa dibayangkan hasilnya akan seperti apa.

“Itu serunya, ketika menggambar nanti berimajinasi jadinya seperti apa. Ketika membalik sesuai yang diinginkan gak,” ujar perempuan yang mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung ini.

Lebih lanjut ia menceritakan, awal mula belajar melukis menggunakan media kaca tahun 1999. Namun berhenti karena mengurus anak. Dan, setelah 10 tahun kembali mengeluti hobinya itu. “Tahun 2000 sampai 2010 saya fokus urus anak. Mulai melukis lagi 2010 saat anak sudah mulai sekolah, sampai sekarang,” ujarnya.

Ketertarikannya terhadap seni sebetulnya sudah lama. Ia mengaku ingin belajar seni tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, namun tidak direstui orang tua pada saat itu. Alhasil, kuliah di Bandung dengan jurusan kesejahteraan sosial.

Meski begitu, lingkungan seni yang terbentuk membuatnya kembali pada jalur yang ingin ia geluti sejak lama. Terlebih suami berprofesi sebagai dosen di ISI Jogjakarta. Hal ini membuat lingkungannya sarat akan seni dan mendorong menjadi pelukis. “Lingkungan itu yang membentuk dan menjadi guru saya. Seniman-seniman itu jadi guru saya,” ungkapnya.

Ia berharap seni lukis menggunakan media kaca kembali berjaya seperti dahulu. Meskipun ia mengaku yang ia geluti bukan seni lukis kaca tradisional yang mengusung tokoh perwayangan. Namun secara garis besar media yang digunakan sama dan itu yang ingin ia lestarikan. “Saya ingin mengangkat lagi lukisan kaca tapi versi saya, karena belum bisa melukis kaca secara tradisional,” tambahnya.

Ia juga berharap generasi muda dapat menyukai seni lukis kaca. Agar tidak hilang dan terus ada dari generasi ke generasi. Impian tertingginya adalah kebangkitan seni lukis kaca tradisional. “Saya berharap lukisan kaca tradisional akan naik lagi, karena maestro kita mulai berkurang. Beberapa pelukis kaca sudah meninggal. Jadi saya harap ada generasi muda melestarikan itu. (laz)

Jogja Raya