RADAR JOGJA – Sebanyak 2.022 lampion diterbangkan dan mewarnai langit Borobudur tadi malam (16/5) yang bertajuk ‘light of piece’. Namun, jumlah itu tidak serta-merta diterbangkan dalam satu waktu, melainkan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama pukul 19.30 dan sesi kedua pukul 21.00.

Ketua II DPD Walubi Jawa Tengah Tanto Soegito Harsono menuturkan, penerbangan lampion ini memang dibagi menjadi dua sesi. Pasalnya, jika diterbangkan dalam satu sesi, kondisi sekitar Candi Borobudur akan crowded. Penerbangan tidak hanya diikuti oleh umat Buddha saja, namun bisa diikuti oleh masyarakat umum.

Masyarakat dapat mendaftarkan diri kepada panitia di lokasi. “Diikuti masyarakat umum, siapa pun boleh ikut, bebas. Karena memang diperuntukkan secara umum,” ujarnya.

Lampion ini berdimensi 90 sentimeter dengan tinggi satu meter. Setiap lampion diterbangkan oleh empat orang. Tanto menambahkan, lampion buatan Thailand ini pernah diterbangkan di Candi Borobudur saat perayaan Waisak pada 2019 lalu. Namun, ada perbaikan tertentu.

Dia mengatakan, setiap tahun, panitia akan mempelajari kekurangan dari lampion tersebut, sehingga akan lebih baik lagi dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Memang tiap tahun kami cari yang lebih baik. Kami perbaiki agar lebih baik lagi,” tuturnya.

Tanto menambahkan, lampion ini bermakna pelita. Setiap manusia memiliki pelita kehidupan. Semua orang memanjatkan doa agar semua kegiatan dan harapannya berjalan dengan lancar. “Semua sehat, semua rukun, dan semua bahagia,” sambungnya.

Sementara itu, ketua panitia Agus Jaya mengatakan, lampion yang terjual 80 persen dari total 2.022 lampion. Dia menyebut, lampion ini terbuat dari bahan kertas khusus dengan kerangka yang terbuat dari bambu.

Pada saat ketinggian tertentu dan sumbunya menyala, posisi lampion akan lebih sempurna. Penerbangannya akan melaju dengan ketinggian tertentu dan akhirnya terbakar. Dengan ketinggian yang tidak terjangkau.

“Karena lampion daya tendangnya tinggi, panasnya juga cukup. Kami belinya dari Thailand, perusahaannya khusus produksi lampion,” paparnya.

Agus menuturkan, pelepasan lampion merupakan satu rangkaian ritual dari perayaan Waisak yang diadakan bersama Walubi. Makna lampion sendiri pun universal. Lantaran kegiatan penerbangan lampion ini sebagai magnet bagi semua peserta perayaan Waisak.

“Karena bukan hanya umat Buddhis saja yang bisa ikut, tapi dari semua agama duduk bareng di sini. Kita make a wish, berdoa di Candi Agung ini,” ujarnya.

Cut Juliani, salah seorang peserta dari Jakarta mengaku, baru kali pertama dan menyempatkan datang ke Candi Borobudur untuk mengikuti penerbangan lampion dalam perayaan Trisuci Waisak 2566 BE ini. “Hari ini ada acara pelepasan lampion, seru dan puas banget.

Apalagi baru pertama kali ikut, senang banget,” ujarnya.
Dia mengatakan, kegiatan ini berjalan lancar dan didukung dengan cuaca yang cerah. Terlebih pelaksanaan kegiatan ini dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Juliani menambahkan, sudah membeli tiket penerbangan lampion jauh-jauh hari. “Bahkan sebelum event, ada teman yang sudah beli tiket lima buah. Pokoknya, begitu kami tahu acara ini bisa dilaksanakan, kami semangat untuk ikut,” tambahnya.

Seperti peserta lainnya, Juliani juga mengucapkan harapan-harapan sebelum lampion itu diterbangkan. “Harapan di lampion, semoga tetap sehat, rezekinya mudah, bahagia, ada yang murah jodoh juga. Pokoknya semua doa kami masukkan dengan harapan semoga tercapai,” tandasnya. (aya/laz)

Jogja Raya