RADAR JOGJA – Memasuki usia ke-106 tahun, Kabupaten Sleman memiliki segudang prestasi. Pada tahun 2021, setidaknya 52 penghargaan diterima kabupaten ini. Penghargaan beragam, mulai dari tingkat nasional hingga daerah.

Di antaranya dari Kementerian PAN-RB, Kemendagri, ANRI, Kemenkes, Komisi Perlindungan Anak, Kementan, Perpusnas, Kemenkeu, Kemendag, Kominfo, Kemenpar, Kemenaker, dan masih banyak penghargaan lainnya.
“Banyak prestasi yang kita raih, menunjukkan kinerja yang bagus dari rekan-rekan ASN. Namun demikian tidak cukup sampai di situ, karena masih banyak hal bisa kita tingkatkan,” ujar Sekretaris daerah Sleman Hardo Kiswoyo kemarin (15/5).

Ia mengarisbawahi di usia Kabupaten Sleman yang sudah tidak sedikit lagi dan prestasi segudang. Namun pelayanan bagi masyarakat harus menjadi prioritas utama. Perbaikan terus dilakukan di pelbagai sektor. Di antaranya pelayanan terhadap masyarakat. “Kita usia sudah matang, tidak ada alasan bagaimana kita tidak bisa melayani masyarakat,” tegasnya.

Di sisi lain, peringatan HUT ke-106 Sleman menjadi momen introspeksi untuk terus memperbaiki kinerja. Termasuk pelayanan publik dan infrastruktur jalan yang sering mendapat sorotan dari warga.

“Ini yang bagian tugas kami untuk sosialisasi masyarakat, karena jalan ngertine masyarakat wilayah Sleman. Padahal ada juga kewenangan pusat, provinsi, kabupaten, dan pemerintah kalurahan. Ini yang menjadikan problem, bagaimana meningkatkan koordinasi. Akan kita petakan tanggung jawab mana, pekerjaannya diagendakan seharusnya sama biar bisa mengatasi,” lanjutnya.

Sementara itu, upacara Bedhol Projo menjadi awal puncak rangkaian HUT ke-106 Kabupaten Sleman. Upacara menandai perpindahan pusat pemerintahan Sleman yang pada saat itu dijabat KRT Murdodiningrat pada periode 1959-1974. Perpindahan dari Ambarrukmo ke Beran dilakukan pada 4 Juli 1964 dan menjadi pusat pemerintahan Sleman hingga saat ini.

Acara diawali dengan doa, kenduri, potong tumpeng, kembul bujono dilanjutkan penyerahan Kendogo Punjering Pemerintahan Sleman. Kemudian kendogo dibawa ke pusat Pemerintahan Kabupaten Sleman di Beran.
“Depok kebetulan kan salah satu wilayah yang dulu pernah digunakan sebagai pusat pemerintahan kabupaten Sleman, yaitu di Pendopo Ambarrukmo milik Kraton Jogja,” ujar Panewu Depok Wawan Widianto usai penyerahan kendogo kepada Ketua HUT Sleman Aji Wulantoro.

Wawan berharap pembangunan Sleman di masa datang tidak hanya pembangunan fisik saja. Namun juga nonfisik. Menurutnya, salah satu penyakit pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah ketidakmerataan pembangunan.
“Dan itu kita akui meski di Depok ekonomi tinggi, tidak menutup mata masih ada warga marginal, kepala keluarga perempuan, lansia terlantar, anak yatim, difabel dan wanita rentan sosial ekonomi. Saya harapkan Kabupaten Sleman menaruh harapan yang besar untuk membebaskan mereka dari beban biaya hidup sehari-hari. Saya kira kita mampu,” tambahnya.

Selanjutnya pengambilan pusaka Tumbak Kyai Turuin Sih pemberian dari Hamengku Buwono X pada peringatan Hari Jadi ke-83 Sleman tanggal 15 Mei 1999. Tumbak Kyai Turun Sih menjadi simbol rezeki dan kemakmuran bagi masyarakat, sebagai penyangga pangan dan lumbung beras yang utama di DIJ.

Pusaka Tumbak Kyai Turun Sih yang disimpan di gedung pusaka ruang Sekretaris Daerah dibawa abdi dalem Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat untuk diserahkan oleh Sekda Sleman Hardo Kiswoyo kepada Ketua Panitia HUT Sleman Aji Wulantoro. Pusaka kemudian dikirab oleh bregodo pasukan diiringi abdi dalem menuju lapangan Pemkab Sleman, tempat berlangsungnya upacara puncak HUT Sleman. Upacara dilaksanakan sederhana, mengingat Sleman saat ini masih dalam masa pandemi Covid-19 level 2.

Ketua Umum Peringatan Hari Jadi Aji Wulantoro mengatakan, peringatan Hari Jadi Ke-106 Sleman mengangkat tema ‘Sesarengan Mbangun Sleman, Sleman Gumregah’. “Tema ini memiliki arti membangun Kabupaten Sleman bersama-sama dengan semangat dan bangkit pasca pandemi, agar ekonomi bangkit dan kondisi sosial masyarakat segera pulih,” katanya.

Sesarengan Mbangun Sleman menjadi bagian untuk mengajak seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Sleman untuk membangun daerahnya. Sedangkan gumregah berarti semangat untuk menghadapi berbagai persoalan yang ada. (cr4/laz)

Jogja Raya