RADAR JOGJA – Tokoh ini bernama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929, ia akrab disapa Romo Mangun. Dia sempat ikut berperang sebagai prajurit BKR, TKR Divisi III, Batalyon X, dan Kompi Zeni 1945-1946. Bahkan pernah menjadi komandan Seksi TP Brige XVII, Kompi Kedu 1947-1948. Dia terjun di medan pertempuran Magelang, Ambarawa, dan Semarang.

Romo Mangun ditasbihkan sebagai imam oleh Mgr Albertus Soegijapranata pada 8 September 1959. Lulusan Sekolah Tinggi Teknik Rhein, Westfalen, Aachen, Jerman ini, pun merupakan dosen luar biasa di Universitas Gadjah Mada (UGM). Lantas sebagai seorang aktivis, dia berperan dalam menggalang kekuatan rakyat untuk melengserkan penguasa Orde Baru.

Jajaran peran besar Romo Mangun dalam sejarah dan sosial masyarakat dipaparkan oleh Prof Dr Augustinus Supratiknya. Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma (USD) Jogjakarta ini, merupakan salah seorang sahabat dekat Romo Mangun. Mereka bahkan pernah tinggal di rumah yang sama, Jalan Gejayan (Kini Jalan Affandi, Red) Gang Kuwera No 14, Mrican, Santren, Caturtunggal, Sleman.

“Saya berkenalan dengan Romo Mangun secara intens pada akhir 1970-an,” beber Pratik, sapaan akrabnya, saat diwawancarai Radar Jogja, Rabu (12/5). Perkenalan Pratik dengan Romo Mangun berawal dari aktivitas kampus di UGM. Kala itu, Pratik merupakan pengurus sebuah organisasi kampus. Saat menggelar acara keagamaan, seperti Natal dan Paskah, Romo Mangun kerap diminta hadir. “Kedekatan itu berawal dari sana. Kemudian meluas di luar kampus,” ungkapnya.

Pratik mulai kerap menemani Romo Mangun melakoni pengabdian. Termasuk turut dalam aktivitas Romo saat melakukan pendampingan di bantaran Kali Code. Komunikasi yang disebut Pratik dapat berjalan dengan baik atas bantuan Lurah Terban kala itu, Weli Prasetyo. “Komunikasi berjalan baik dengan segala resistensi,” lontarnya.

Resistensi yang disebut Pratik ini, bentuknya semacam teror. Sebab, kediaman Romo Mangun dan Pratik kerap dilempari batu, hampir tiap sore. “Ada pihak yang kepentingannya dirugikan. Akhirnya itu diselesaikan di tingkat kecamatan. Jadi, boleh tinggal di situ. Tapi mari menjadi hidup bertetangga yang baik, tidak eksploitatif,” paparnya.

Pratik merasa beruntung. Pernah mendapat pengalaman secara personal bersama Romo Mangun. Termasuk tahu proses Romo Mangun mengkritisi agamanya sendiri. “Beliau mengajukan izin untuk berkarya di luar gereja,” cetusnya.

Prof Dr Augustinus Supratiknya.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)

Sebuah hal yang disebut Pratik sangat sulit. Bahkan belum pernah terjadi. Dan, hanya Romo Mangun saja yang pernah melakukannya. Langkah besar ini, kemudian menimbulkan pandangan bahwa Romo Mangun merupakan sandungan.

Romo juga dianggap sebagai contoh ‘yang kurang baik’ bagi pendidikan calon imam lainnya. Sebab memunculkan ketakutan kalau langkahnya diikuti. “Dalam hal itu, sebenarnya agak berseberangan. Romo itu sebetulnya juga kontroversial di dalam gereja,” ungkapnya.

Tapi menariknya, intelektualitas Romo Mangun tidak pernah ditunjukkannya dalam pergaulan. Termasuk pada Pratik yang tinggal serumah. Mungkin dari cermin kesederhanaan Romo Mangun. “Saya tidak pernah menyaksikan beliau membaca dan mengetik. Orangnya sederhana, tapi gagasannya luar biasa,” bebernya.

Kesederhanaan ini sampai membuat Romo Mangun takut terkesan mewah. Bahkan saat menyambut Umar Kayam, Romo Mangun sampai bertanya pada Pratik. Apakah jika menyajikan lele mangut, yang merupakan kegemaran Umar Kayam, terkesan mewah. “Sampai seperti itu,” ujarnya, disertai tertawa.

Kebiasaan lucu lainnya, Pratik kerap ditinggal sendiri di rumah Kuwera. Kendati ada pula kalanya Romo Mangun tidur di sana. Tapi, Romo tidak pernah mandi dan BAB di rumah tersebut. Pasalnya, dia harus turun ke sungai. “Jadi pasti paginya Romo kembali ke Jetis. Nah siangnya, kembali lagi ke Kuwera,” ujar Pratik terbahak-bahak.

Pratik juga membeberkan cerita unik lain, berdasar informasi yang diterimanya. Romo Mangun kerap menyaguhi tugas di Salam, Magelang, Jawa Tengah. Namun, saat waktunya acara digelar, Romo justru mengaku lupa. Itu dimaknai Pratik sebagai upaya Romo dalam dalam mengajarkan kemandirian belajar. “Sengaja, bentuk upaya memerdekakan. Supaya tidak tergantung pada Romo,” ucapnya.

Terkait dengan kemerdekaan, Pratik menduga, itu merupakan obsesi besar Romo Mangun. Lantaran perhatiannya tertuju pada pengentasan kemiskinan, perjuangan keadilan, serta kebebasan dan kemerdekaan pendapat. Termasuk statusnya sebagai arsitek dihayati Romo dalam kerangka kemerdekaan. Memihak pada masyarakat yang kurang yang lemah. “Dia menggali budaya lokal. Termasuk dalam karya nyata, entah di Kedungombo atau Kali Code. Itu dalam konteks memperjuangkan formasi sosial yang lebih berperikemanusiaan dan memberdayakan,” jabarnya.

Sampai pada kematiannya, Romo Mangun sesungguhnya ingin tetap mendedikasikan diri. Dalam secarik kertas yang ditulis tangan, Romo menyebutkan wasiatnya. Termuat, keinginannya untuk menyumbangkan organ tubuh. “Jasadku supaya diserahkan ke fakultas kedokteran terdekat. Organ yang masih bisa dipakai, didonasikan. Sisanya untuk studi praktikum kedokteran. Intinya, sesudah mati pun dia masih ingin berbuat bagi kemanusiaan,” tegasnya.

Namun, Romo Mangun meninggal di Jakarta pada 10 Februari 1999. Sementara wasiatnya tersimpan di Rumah Kuwera, Sleman. Zaman itu, komunikasi belum masif. Akhirnya, keuskupan memutuskan untuk memakamkan jenazah Romo Mangun di Makam Imam Projo, Kentungan, Sleman. “Padahal, hasratnya lebih dari itu (kematian, Red),” tandas Pratik. (fat/laz)

Jogja Raya