RADAR JOGJA – Perjalanan hidup Farradina Husna Sofiana sangat bewarna. Perempuan 36 tahun warga Kauman Gondomanan Jogja yang awalnya berprofesi sebagai guide asing harus terhenti karena pandemi Covid-19 yang mematikan sektor pariwisata.

Masa sulit tidak membuatnya berhenti, Ofie, panggilan akrabnya mulai berkarya di bidang lain. Masa sulit pandemi Covid-19 sempat membuatnya menjadi pengangguran. Lantas ia mengambil kursus memijat khusus perempuan akhir 2020 lalu.

Lulus pelatihan, nasib berkata lain. Sebab ia justru didapuk menjadi fasilitator BPBD Kota Jogja. Alhasil amanah itu harus diemban dengan sebaik mungkin. Pasalnya itu adalah dunia yang baru dan asing bagi perempuan yang hobi traveling itu.

“Januari 2021 BPBD Kota jadi Pendamping penanggulangan bencana Kemantren Gondomanan. Pertama kali punya kerjaan yang harus kenal warga dan relawan,” jelasnya.

Ofie yang selama ini sibuk menjadi guide harus belajar berorganisasi dengan warga. Selain itu ia juga menjadi relawan pemulasaraan jenazah saat kasus Covid-19 melonjak pada Juli 2021 lalu. Ia tidak pernah berhenti untuk belajar hal baru. Apalagi yang berhubungan dengan kemanusiaan.

Rasa kemanusiaan dan hidup yang kini didedikasikan untuk masyarakat rupanya dipicu oleh banyak kehilangan. Sejak ibunya meninggal sebelum pandemi Covid-19, ditambah ayahnya terkena Covid-19 dan meninggal. Ia terpuruk luar biasa. Namun hal itu lantas menjadi pemicu bangkitnya semangat untuk berubah dan hidup untuk masyarakat.

“Ketika kehilangan ibu, lek (tante, Red), people helping me. Mereka membantuku. Terutama tetangga. Bapakku meninggal diurusi semua. Terutama aku covid dua kali juga dipedulikan. Mungkin dari situ ya,” jelasnya.
Saat ini, Ofie masih mengemban perpanjangan fasilitator BPBD Kota Jogja. Karena kegigihannya, malahan ia juga ditunjuk menjadi ketua rukun tetangga (RT) belum lama ini. Per Januari 2022 ia bertugas menjadi Ketua RT 48 Kampung Mauman dengan masa pemilihan 3 tahun.

“Ngewangi uwong ki healing (membantu orang ternyata healing, Red). Kayak lega, ternyata happy ya bantu orang. Dari mageran gak tau apa-apa lalu dipaksa. Terjebak di hal yang benar bisa jadi,” jelasnya.

Ofie yang juga hobi berolahraga gym, ternyata memiliki cita-cita menjadi seorang jurnalis. Lantas setelah tamat SMA, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Jogjakarta (STMM MMTC) jurusan penyiaran.

“Awal lulus tidak kunjung dapat kerjaan. Pengen jadi jurnalis tapi gak bisa, gak ada kesempatan,” ujarnya yang sudah menjadi guide asing sejak 2009 atau kurang lebih sebelas tahun sebelum dihantam pandemi.

Lebih lanjut Ofie menceritakan awal mula menjadi guide asing dengan mengikuti diklat dan pelatihan di Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Ia memutuskan mengikuti diklat saat membantu ibunya berjualan di warung.
“Belajar guide 2 tahun lulus enggak dapat kerjaan lalu bantu ibu jualan. Ada langganan nyeletuk kok enggak jadi guide, ternyata ada bukaan diklat dan ngobrol sama ibu diperbolehkan ikut,” tandasnya.

Ia mengaku tidak memiliki ketrampilan berbahasa Inggris. Namun ia berupaya keras untuk belajar. “Aku background bukan english (pendidikan bahasa Inggris, Red). Aku belajar seko diklat gak tau bahasa inggrisnya,” (cr4/bah)

Jogja Raya