RADAR JOGJA – Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi memastikan pihaknya tak berpangku tangan atas permasalahan sampah di Kota Jogja. Pemkot Jogja tengah menyiapkan skema lokasi pengolahan sampah. Menggunakan lahan seluas 2 hektar di wilayah Kabupaten Bantul.

Terkait operasional, Heroe menjanjikan tahun depan atau 2023 mulai berjalan. Perannya untuk menampung seluruh sampah dari Kota Jogja. Untuk kemudian diolah atau didaur ulang sesuai jenis sampahnya.

“Kedepan, kita memang nantinya akan membangun tempat pengolahan sampah sendiri untuk kota Jogja yang kapasitasnya nanti secara bertahap nanti akan kita kuatkan,” jelasnya ditemui di kawasan Kotabaru Danurejan, Kota Jogja, Kamis (12/5).

Terkait luasan lahan, diakui olehnya masuk kategori kecil. Hanya saja Heroe memastikan akan ada pengembangan. Tentunya seiring proses pengolahan sampah yang juga terus berjalan.

Untuk saat ini, pihaknya akan merancang skema yang matang. Memanfaatkan lahan seluas 2 hektar di Kabupaten Bantul sebagai lokasi pengolahan sampah. Tentunya dengan memanfaatkan teknologi yang ramah lingkungan.

“Sekarang yang sudah ini 2 hektare, nanti bisa kita tambah lagi. Makanya nanti dilihat pertumbuhan bagaimana pengolahannya. Karena pengolahan sampah itu teknologinya terlalu banyak, macam-macam, nah ini yang nanti kita sesuaikan,” katanya.

Kota Jogja, lanjutnya, bukanlah wilayah yang masuk sebagai wilayah percontohan. Pemerintah pusat sendiri menunjuk sejumlah daerah sebagai lokasi konversi energi. Berupa pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Wilayah tertunjuk sebagai lokasi percontohan, beberapa diantaranya Surabaya, Solo, Semarang, Bekasi dan Makassar. Sebagai percontohan proyek konversi tenaga listrik.

“Nah kita kebetulan tidak menjadi pilot project sehingga harus membangun sendiri dengan anggaran yang memang cukup besar untuk bisa mengolah menjadi energi listrik,” ujarnya.

Pemilihan lokasi di Bantul juga berdasarkan keperuntukan dan fungsi lahan. Berdasarkan kajian, sejumlah wilayah di Kabupaten Bantul ideal sebagai lokasi pengolahan sampah. Ini sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang ada di Jogjakarta.

Itulah mengapa pemilihan lokasi tak bisa asal. Disatu sisi dari wilayah yang ada, Kabupaten Bantul sudah masuk dalam perencanaan. Termasuk pemanfaatan lahan menjadi lokasi pengolahan sampah.

“Insyaallah sudah tidak ada masalah karena di sana tidak dibuang tapi diolah sehingga tidak akan terjadi penumpukan seperti ini. Artinya nanti kita bisa buat pengolahan pembuangan,” katanya.

Terkait besaran anggaran, Heroe belum mengetahui secara detil. Tapi dia mengacu pada jenis mesin pengolah sampah. Setidaknya satu unit mesin pengolah sampah berada di kisaran Rp. 15 Miliar.

“Anggaran saya enggak begitu hafal, tapi ada peralatan generator anorganik itu yang sampai Rp. 15 miliar kapasitas antara 40 sampai 50 ton,” ujarnya.

Heroe optimis skema pengolahan sampah ini solutif. Tentunya dibarengi dengan pemilahan sesuai dengan jenis sampah. Baik untuk sampah jenis organik maupun anorganik.

“Yang anorganik nanti kita olah menjadi batako dan segala macam. Yang organik nanti bisa diolah menjadi pupuk sampai makan ikan dan segala macam,” katanya. (Dwi)

Jogja Raya