RADAR JOGJA – Dampak dari penutupan TPST Piyungan kini mulai terasa pada sektor pariwisata di Bantul. Belasan ton sampah dari libur lebaran di Pantai Parangtritis kini tidak bisa dibuang. Perhitungan sementara ada 15 ton sampah sejak lebaran lalu yang menumpuk.

Koordinator Unit Pengelolaan Kegiatan (UPK) Sampah Pantai Parangtritis, Suranto mengatakan total sampah ada di depo sampah Pantai Parangtritis terhitung mencapai 15 ton. Belasan ton sampah tersebut dihasilkan dari aktivitas para wisatawan yang berkunjung selama masa libur lebaran kemarin.

Dikatakan Suranto, dengan masih ditutupnya TPST Piyungan pihaknya khawatir jumlah sampah di Pantai Parangtritis akan terus bertambah setiap harinya dan mengganggu wisatawan. Pasalnya, hingga saat ini aktivitas wisatawan di Parangtritis masih terus berjalan. Namun di sisi lain pengelola kebersihan di destinasi tersebut belum bisa menyingkirkan sampah yang menumpuk di Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPSS). “Ada sekitar 15 ton sampah yang saat masih menumpuk di TPSS Pantai Parangtritis dan akan bertambah terus karena tidak bisa dibuang ke (TPST) Piyungan,” ujar Suranto saat dihubungi, Rabu (11/5).

Terkait dengan upaya pengelolaan sampah di Pantai Parangtritis, Suranto membeberkan, selama ini ada dua instansi yang mengelola sampah di destinasi wisata tersebut. Yakni Dinas Pariwisata mengurusi TPSS Mancingan Baru dan Dinas Lingkungan Hidup mengurusi TPSS yang letaknya di kawasan Pantai Parangkusumo.

Ia menyebut untuk sampah yang berada di Mancingan Baru memang belum terlalu berdampak pada pencemaran lingkungan karena merupakan sampah kering seperti plastik pembungkus makanan. Namun kondisi itu berbeda dengan TPSS yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup, karena mayoritas limbah merupakan sampah rumah tangga yang berasal dari warung-warung di sekitar pantai. Diakuinya, untuk saat ini memang belum terlalu berdampak pada pencemaran lingkungan karena kebanyakan sampah kering. “Tetapi kalau dibiarkan terus tentu akan jadi masalah karena ada sampah rumah tangga dari warung yang dapat menimbulkan bau,” katanya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bantul Ari Budi Nugroho membenarkan untuk saat ini pihaknya telah menghentikan pelayanan pengangkutan sampah di semua tempat pembuangan sementara yang tersebar di kabupaten Bantul. Penghentian pelayanan pengambilan sampah itu pun dipastikan tidak tahu sampai kapan karena masih belum ada keputusan pembukaan kembali TPST Piyungan yang kini tengah diblokade masyarakat sekitar TPST.

Untuk mengurangi jumlah sampah, pihaknya meminta masyarakat agar bisa mengelola sampah secara mandiri terlebih dahulu. Yakni dengan melakukan pengurangan sampah mulai dari rumah tangga dengan cara memilah dan mengolah sampah organik. “Semoga bisa mengurangi volume sampah yang dibuang,” katanya. (inu/pra)

Jogja Raya