RADAR JOGJA – Dampak penutupan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, mulai berdampak pada sektor pariwisata. Di beberapa objek wisata di Kota Jogja, tumpukan sampah menjadi pemandangan sehari-hari. Seperti onggokan sampah menumpuk di muka trotoar Jalan Karel Sasuit Tubun. Lokasi ini merupakan TPS liar yang jadi solusi warga membuang sampahnya.

Padahal, lokasi ini merupakan sentra kuliner khas Jogja, yaitu Bakpia Pathok. Pelaku kuliner mengeluh, kerap mencium bau tidak sedap timbunan sampah. Utami, karyawan sebuah toko bakpia di Jalan KS Tubun, jadi salah satunya. Dia cukup terganggu dengan timbunan sampah di seberang tokonya. “Baunya sampai sini. Setiap angin ke sini kecium bau,” ujarnya diwawancarai Radar Jogja Selasa (10/5).

Berdasar pengamatan gadis 23 tahun ini, tumpukan sampah terjadi tiga hari belakangan. Biasanya, tumpukan-tumpukan sampah itu kerap diangkut oleh petugas saat pagi hari. Namun, petugas tidak lagi melakukan penjemputan sampah, sejak jalan menuju TPST Piyungan diblokade warga Banyakan, Piyungan, Bantul. “Sejauh ini belum ada kecelakaan (akibat tumpukan sampah, Red). Tapi bahaya juga kalau tumpukannya sampai turun ke jalan,” lontarnya.

(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

Wisatawan yang melintas, Oktaviano Adianto, juga ikut menyayangkan timbunan sampah di trotoar KS Tubun. Pria asal Bekasi, Jawa Barat, ini menilai, seharusnya kawasan wisata tertata dengan rapi dan bersih. “Khususnya di kawasan sentra kuliner,” sebutnya.

Terpisah, anggota Komisi C DPRD Kota Jogja Cahyo Wibowo mengatakan, Pemkot Jogja harus berani membuat gebrakan secara nyata. Untuk menyelesaikan permasalahan sampah yang terjadi berulang. Salah satunya, dengan tidak bergantung dengan kabupaten lain.

“Hal ini bisa dilakukan dengan terobosan yang dicantumkan dalam RPJMD sementara dengan program yang terukur, berkesinambungan dan mampu melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini pun mendorong pemkot agar melakukan langkah konkret. Dimulai dengan pendataan aset ruang terbuka hijau pubik (RTHP). Selanjutnya, menilik kemampuan RTHP untuk difungsikan sebagai tempat pengolahan sampah. “Dengan melibatkan masyarakat sekitar, juga memberi manfaat ekonomi pada masyarakat,” cetusnya.

Hanya Mampu sampai Hari Ini

Petugas melakukan penyemprotan di Depo Pengok, Demangan, Gondomanan, Kota Jogja kemarin (10/5).(ISTIMEWA)

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja mengkonfirmasi semua tempat penampungan sementara (TPS) penuh. Dua depo yang jadi tumpuan hanyalah Mandala Krida dan Nitikan. Itu pun diprediksi mampu bertahan lima hari. Artinya, hanya sampai hari Rabu ini.

Kepala DLH Kota Jogja Sugeng Darmanto menyatakan, semua armada dan TPS yang dikelolanya penuh muatan. Dia mengaku kemampuannya bertahan dalam menampung sampah, hanya lima hari saja. “Lebih dari itu, kami masih menyiapkan alternatif,” ujarnya saat dihubungi Radar Jogja Selasa(10/5).

Alternatif sementara yang dimungkinkan adalah bertumpu pada Depo Mandala Krida dan Nitikan. Sebab, hanya dua lokasi tersebut yang dinilainya memungkinkan. “Sebenarnya saya juga berharap terkait apresiasi Pemprov DIJ terhadap tuntutan warga (Banyakan yang menutup TPST Piyungan, Red).

(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

Minimal ke Sekprov DIJ, agar ada titik temu dengan warga,” pintanya.
Terpisah, Pengawas Kebersihan Sektor Krasak Sarijo mengaku sudah dimintai data. Perkiraan jumlah sampah yang menumpuk di wilayahnya. “Kalau di Gondokusuman, jumlahnya sekitar 54 ton,” ungkapnya.

Dia juga membenarkan telah memberi instruksi agar gerobak sampah berhenti beroperasi sementara waktu. Sebab, TPS dan depo sudah tidak dapat lagi menampung sampah. “Warga juga saya minta menahan dulu sampahnya. Kalau dibuang ke depo akan mengganggu lingkungan,” paparnya.

Sedangkan sopir armada DLH Kota Jogja Dwi Saputro mengaku masih beroperasi. Dia mengangkut sampah yang terserak di jalan Jogja-Solo, untuk menghindari kecelakaan akibat sampah, seperti beberapa tahun lalu, kembali terulang. “Jadi kami bersihkan yang di sana,” ujarnya.

Selain itu, pria 37 tahun ini juga melakukan penyemprotan terhadap tumpukan sampah di beberapa lokasi penimbunan. Tujuannya mematikan potensi jentik nyamuk serta mengurangi bau menyengat karena pembusukan sampah. “Tapi kalau sudah siang baunya tercium lagi. Jadi penyemprotan kami lakukan setiap hari,” tandasnya. (fat/laz)

Jogja Raya