RADAR JOGJA – Mudik menggunakan motor sudah menjadi budaya warga Indonesia. Tak tanggung-tanggung, mudik menggunakan motor bisa saja dilakukan sekalipun harus menyeberangi pulau. Konon, fenomena mudik menggunakan motor tak lepas dari faktor ekonomi. Pastinya lebih hemat dan fleksibel.

“Dari dulu sampai sekarang mudik pakai motor tak berubah. Malah bisa jadi malah semakin marak,” ungkap pengamat transportasi Muslih Zainal Asikin kepada Radar Jogja (14/4).

Ia mengatakan, hal ini tak lepas dari beberapa faktor. Salah satunya akibat dampak pandemi Covid-19. Menyebabkan perusahaan yang biasanya menyediakan mudik gratis, tahun ini tidak menyediakan. Demikian juga di Kementrian Perhubungan, tidak menganggarkan mudik gratis. Dapat disimpulkan, mudik gratis berkurang banyak yang memilih mudik dengan motor pribadi.

“Bukan hanya itu, faktor lainnya tarif tol mahal, bahan bakar minyak (BBM) mahal. Itu yang menyebabkan orang cenderung memilih mudik menggunakan motor,” ungkap ketua Majelis Profesi Pengurus Pusat Masyarakat Transportasi Indonesia ini.

Oleh karena itu, prediksi mudik semakin meningkat. Ditambah dua tahun selama pandami mengalami pembatasan di setiap wilayah. Pemerintah melarang mudik, ini semakin meningkatkan antusias masyarakat. Ditambah peniadaan swab antigen antarwilayah. Bulan lalu, potensial mudik masih 55 juta orang. Berikutnya, tes PCR dan antigen dihapus, sebulan kemudian langsung naik hampir 80 juta.

“Kenaikannya luar biasa,” kata Muslih. Disebutkan, data ini dia peroleh dari penelitian Balitbang Kementrian Perhubungan. Dalam data disebutkan, kenaikan hampir 25 juta itu, hanya terjadi di Indonesia.

Fakta budaya mudik motor yang tak pernah hilang yakni membawa muatan beban lebih banyak. Terkadang tanpa mempertimbangkan keamanan, keseimbangan beban dengan kondisi kendaraan. Sehingga banyak yang dipaksakan.

Terlebih, hingga saat ini belum ada regulasi yang mengatur muatan mudik. Berapapun barang yang dibawa, diperbolehkan. Masyarakat dibebaskan dengan muatannya masing-masing.

Mudik motor dengan banyak muatan ini berbahaya. Bukan tak hanya rawan pencurian, tetapi juga memicu kecelakaan lalu lintas. Apalagi bila kondisi jalan rusak, berlubang dan bergelombang. Ini harus menjadi pertimbangan. Termasuk kondisi cuaca buruk. Hujan disertai angin kenvang, tanah longsor dan banjir di beberapa wilayah masih terjadi. “Sehingga harus sangat berhati-hati,” pesannya.

Jika dulu mudik menggunakan motor karena kondisi ekonomi dengan alasan lebih hemat, sejalan dengan fenomena saat ini di mana Indonesia tengah mengalami kemunduran ekonomi. “Jadi saya rasa tidak ada yang berubah, malah bisa jadi lebih parah,” tandas Muslih. (mel/laz)

Jogja Raya