RADAR JOGJA – Salah satu aksesoris pakaian yang kerap digunakan kaum laki-laki di hari raya Idul Fitri yakni peci. Terdapat berbagai motif dan model peci yang bisa menjadi pilihan masyarakat. Salah satunya peci batik yang diproduksi oleh home industri di Kampung Jogokariyan, Jalan Suripto No.781 C, Manterijeron, Kota Jogja.

Owner Peci Batik Jogokariyan, Jardiyanto mengatakan pesanan meningkat saat momen Ramadan dan menjelang lebaran. Peningkatan penjualan mencapai 4 hingga 5 kali lipat dibanding hari biasa.

Dalam satu hari saja terdapat lebih dari 400 pesanan peci batik, baik secara offline maupun online. Produk ini dibanderol dengan harga Rp. 100 ribu hingga Rp. 200 ribu. Alhasil Jardiyanto mampu meraih omzet setidaknya Rp 40 juta dalam satu hari.

“Kalau hari Senin itu kadang sampai 480-an, angkanya naik turun. Bisa naik di atas itu, bisa dibawah itu. Peningkatannya signifikan sekali ketika sudah memasuki bulan Ramadan. Kami kewalahan untuk pemenuhan keinginan konsumen, karena biasanya mereka mencari model yang viral,” jelasnya saat ditemui di tempat produksi Peci Batik Jogokariyan, Sabtu (30/4).

Untuk menjaga kepercayaan konsumen, Jardiyanto terus berinovasi. Dengan menciptakan model dengan motif-motif yang eksklusif. Tentunya untuk menarik minat para pembeli.

Model peci dengan ekor di belakangnya dan lilitan kain batik menjadi ciri khas yang ditonjolkan Peci Batik Jogokariyan. Motif pada peci pun bervariasi. Total terdapat sebanyak 54 motif batik. Sementara motif yang paling laris yakni motif Poleng Sogan dan motif Gumitir.

“Kami mencoba untuk mengangkat kearifan lokal untuk dimunculkan dalam peci batik ini,” katanya.

Guna mengoptimalkan produksi, Jardiyanto memperkejakan 40 karyawan di Peci Batik Jogokariyan. Jardiyanto juga mengaku menyisihkan sebanyak 5 persen dari keuntungan penjualan untuk didonasikan ke masjid.

“Ketika Anda semua membeli produk peci batik Jogokariyan, otomatos berinfak 5 persen dari keuntungan untuk kemaslahatan umat,” ujarnya. (isa/dwi)

Jogja Raya