RADAR JOGJA – Puluhan buruh gendong Pasar Beringharjo mengikuti peragaan busana kebaya dalam rangka peringatan Hari Kartini, Rabu (20/4). Berlangsung di lobi pasar sisi timur, para perempuan tangguh ini berjalan dengan berbagai gaya. Mulai dari lenggak-lenggok yang luwes hingga yang masih terlihat kaku.

Salah satu pesertanya adalah Sulami. Perempuan berusia 39 tahun ini awalnya terlihat gugup saat berjalan. Namun berkat dukungan teman-temannya, warga Kulonprogo ini bisa tampil dengan baik.

“Enggak pernah pakai jarik, membuat sulit kalau kerja. Ini pakai buat fashion show, senang semangat juga memperingati hari Kartini,” jelasnya ditemui di Pasar Beringharjo sisi timur, Rabu (20/4).

Tentang Hari Kartini, Sulami menilai sebagai momentum penting. Merupakan tonggak kekuatan kaum perempuan. Tetap berjuang untuk diri sendiri maupun keluarga.

‘Memaknai hari Kartini, seorang perempuan tidak boleh patah semangat, harus tangguh. Jadi contoh anak-anaknya bahwa perempuan tidak lemah,” katanya.

Inisiator peragaan busana ini adalah Perempuan Berkebaya Indonesia Jogjakarta. Merupakan komunitas yang mewadahi perempuan yang memiliki kecintaan terhadap batik. Tak sekadar produk busana tapi juga nilai budaya.

Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia Jogjakarta Margaretha Tinuk Suhartini mengungkapkan buruh gendong adalah sosok perempuan yang kuat. Tetap berjuang demi ekonomi keluarga. Sehingga sangat tepat digambarkan sebagai sosok Kartini masa kini.

“Buruh gendong identik dengan perjuangan. Dan ini bentuk penghargaan kami kepada orang yang terlupakan. Mereka salah satu pejuang emansipasi,” ujarnya.

Fashion show kali ini hadir dengan tema kebaya dan kain batik. Keduanya merupakan ciri khas dari budaya Indonesia. Bahkan merupakan warisan dari jaman nenek moyang.

Terpilihnya Pasar Beringharjo memiliki alasan tersendiri. Selain adanya sosok buruh gendong tapi juga mengenalkan kembali Hari Kartini. Tak hanya kepada buruh gendong tapi jugap pengunjung Masjid.

“Sambil mengenalkan kebaya sebagai visi kami dalam mengenalkan kebaya sebagai budaya asli Indonesia dan semakin sering digunakan perempuan Indonesia. Ada sekitar 30 buruh gendong yang ikut,” katanya. (Dwi)

Jogja Raya