RADAR JOGJA – Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji menuturkan konsep fasilitas penanggulangan anak nakal di Pundong, Bantul masih dalam penggodokan. Konsep utamanya adalah sebagai fasilitas rehabilitasi dan pusat pembinaan. Baik dengan pendidikan formal maupun informal.
Pihaknya menunjuk Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga DIJ Didik Wardaya sebagai penanggungjawab program. Perannya juga sebagai penyusun kurikulum pendidikan. Untuk kemudian diterapkan sebagai metode pembelajaran.
“Arahan dari Ngarso Dalem (Hamengku Buwono X) begitu. Di Pundong, sekarang dipakai rehabilitasi akan kembangkan disana. Pusat pembinaan bagi anak-anak arahkan kesana. Masih menyusun kurikulum semacam sekolah boarding. Apakah semua disitu atau sekolah di sekitar situ nanti teknisnya,” jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Selasa (12/4).
Terkait pendataan, pihaknya akan bekerjasama dengan sekolah dan kepolisian. Berupa siswa yang berpotensi atau sedang bermasalah. Terutama yang mengarah pada kenakalan maupun akademis.
Peran dari kebijakan ini adalah memfasilitasi pendidikan anak. Meski bermasalah, namun pendidikan tetaplah prioritas utama. Tujuannya sebagai bekal dan kemampuan di masa depan anak.
“Jadi bukan hanya anak yang ditangkap (terjerat kasus kriminal) tapi potensi ke arah sana. Guru bisa deteksi itu, jangan sampai anak itu putus sekolah dikeluarkan dari sekolah,” katanya.
Materi kurikulum pendidikan, lanjutnya, tak hanya pendidikan formal. Adapula pendampingan psikis bagi anak. Tujuannya untuk meredam sifat dan sikap agresif anak.
Konsep yang diusung berupa sekolah asrama. Sehingga para siswa nantinya menginap saat menjalani pendidikan. Untuk pembiayaan, akan memanfaatkan anggaran dari APBD provinsi.
“Ngarso Ndalem juga menyarankan kemungkinan adanya foster parents, kita carikan ortu angkat atau asuh kerjasama dengan lembaga nasional maupun internasional,” ujarnya.
Tak hanya itu, HB X juga menginstruksikan program anak kembali ke sekolah. Targetnya adalah semua anak di Jogjakarta mendapatkan hak pendidikan. Terutama kepada anak yang masuk usia sekolah.
“Siapapun menemukan anak belum sekolah tapi masuk usia sekolah silakan dicarikan sekolah terdekat nanti dibiayakan dicarikan beasiswa,” katanya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIJ Erlina Hidayati menuturkan program bernama pusat kreativitas remaja. Didalamnya akan ada beberapa fasilitas penunjang kreativitas.
Fungsi dari setiap program ini untuk menampung energi remaja. Sehingga dapat tersalurkan dengan positif. Alhasil niat bertindak nakal atau kriminal bisa ditekan.
“Programnya Jogja Creative Care tapi bisa berubah namanya. Ada meet up space, energy release space dan macam macam. Tempat konseling, education space, workshop ketrampilan termasuk mental health space dan terapi perilaku,” ujarnya.
Untuk saat ini pihaknya masih melakukan pendataan. Berupa daftar prioritas yang akan menjalani program pemerintah ini. Khususnya yang terlibat dalam kelompok remaja berafiliasi tindakan negatif.
“Atau yang keluar dari lapas lalu masuk balai rehab, setelahnya bisa dibina di fasilitas ini. Untuk pendekatan assesmennya juga masih disiapkan seperti apa,” katanya. (Dwi)

Jogja Raya