RADAR JOGJA – Pemprov DIJ akan mendirikan fasilitas penanggulangan anak nakal di Pundong, Bantul. Nantinya akan menampung anak-anak yang mengalami permasalahan di rumah maupun sekolah. Termasuk yang mengalami penolakan dari para orangtua maupun lingkungannya.

Lokasi dari pelayanan ini tepatnya di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas Pundong Bantul. Konsepnya menampung semua anak dengan jenjang pendidikan SD hingga SMA. Tak hanya anak nakal tapi juga yang putus sekolah.

“Punya kenakalan di jalanan kan gitu. Lalu bagi mereka yang putus sekolah tidak punya ijazah SD kembali lagi sekolah. Yang tidak punya ijazah SMP SMA kembali bersekolah terserah sekolah di mana yang penting nanti Kepala sekolahnya nagih ke provinsi, kan gitu. Untuk biaya setiap bulan kan seperti itu,” jelas Gubernur DIJ Hamengku Buwono X ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (12/4).

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini menilai kualitas pendidikan berdampak pada kenakalan. Apabila memiliki bekal pendidikan maka pola pikir lebih matang. Sehingga tidak terburu-buru dalam mengambil setiap keputusan.

Dari hasil kajian, adapula temuan kendala ekonomi. Tepatnya orangtua yang tak mampu membiayai pendidikan anaknya. Alhasil anak tidak mendapatkan bekal pendidikan formal secara optimal.

“Ya kalau dia melanjutkan sekolah di tempat lain, kalau terus nganggur ya kriminalitasnya kan makin tinggi. Kejahatan juga bisa makin tinggi,” katanya.

HB X menilai kebijakan menghentikan sekolah anak bukanlah solusi. Terutama kepada anak yang mengalami kecenderungan nakal. Alih-alih menjadi solusi justru akan menimbulkan permalasahan yang baru.

Pihaknya juga membuka pintu atas kemungkinan Foster parents atau orangtua asuh. Konsepnya membiayai kebutuhan anak yang masuk dalam program pendampingan. Baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun pendidikan formal.

“Jadi unsur-unsur sosial kemanusiaan ini kami coba dorong. Disatu pihak mereka berubah tapi di satu pihak kita melihat rasa sosialnya kemanusiaannya masyarakat Jogja untuk juga membantu mereka-mereka,” ujarnya

Terkait sumber kenakalan remaja, HB X meminta jajarannya mendalami. Adanya dugaan faktor ekonomi, dia tak sepenuhnya mengamini. Ini karena para pelaku kejahatan jalanan ada yang berasal dari kaum berada.

HB X menduga faktor utama berada di keharmonisan keluarga. Termasuk jarangnya komunikasi dan interaksi saat berada di rumah. Alhasil anak mencari kenyamanan di lingkungan bermainnya.

“Rata-rata yang kami openi karena orangtuanya tidak mau menerima lagi karena anak tidak bisa dikendalikan atau memang dasarnya perceraian dan sebagainya,” katanya. (Dwi)

Jogja Raya