RADAR JOGJA – Maraknya aksi kejahatan jalanan turut membuat resah Erix Soekamti. Pentolan grup Endank Soekamti menilai kenakalan remaja ini sangatlah tidak wajar. Terlebih niatnya hanya untuk melukai orang yang dikenal atau tawuran.

Berawal dari keresahan inilah Erix Soekamti menggagas Jogja Gelut Day. Merupakan kegiatan yang akan mewadahi energi berlebih para remaja. Wujudnya berupa konsep tarung bebas yang melibatkan para remaja di Jogjakarta.

“Klitih itu kan keresahan bersama, keresahan masyarakat. Jadi Jogja Gelut Day itu adalah salah satu dari sekian banyak dari inisiatif masyarakat. Jadi kami bergerak mengatasnamakan Jogja MMA itu asosiasi beladiri campuran di Jogja menggelar Jogja Gelut Day di bulan Juni nanti,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (8/4).

Pria yang juga ketua Jogja MMA ini menilai para remaja tak memiliki wadah untuk aktualisasi diri. Alhasil mencari pelarian dengan cara yang negatif. Salah satunya bergabung dengan kelompok atau geng yang bertindak chaos dan kriminal.

Hadirnya Jogja Gelut Day harapannya dapat mewadahi energi berlebih. Selain itu juga agar pelarian tidak ke arah negatif. Adanya tarung bebas ini juga bertujuan menyadarkan bahwa aksi kejahatan jalanan itu sangatlah tidak etis.

“Kan akar masalahnya dia tidak mendapat apresiasi di tempat yang benar itu, sampai akhirnya gaulnya di tempat yang keliru, diapresiasi di tempat keliru ya terjadilah seperti itu,” katanya.

Sebagai orang yang dibesarkan di Jogjakarta, Erix merasa khawatir. Terlebih aksi kejahatan jalanan ini mulai berdampak pada citra Jogjakarta. Mendapatkan stigma dari yang awalnya Jogjakarta berhati nyaman menjadi Jogjakarta berhenti nyaman.

“Supaya Jogja yang namanya Jogja Istimewa yang katanya terbuat dari rindu dan romansa itu bener-bener kembali, terwujud seperti sedia kala,” harapnya.

Tentang teknis, Erix tengah rembugan bersama teman-temannya. Rencananya pendaftaran sudah dibuka pekan depan. Lalu memasuki Mei mulai sosialisasi ke sekolah maupun tempat nongkrong para remaja.

Konsep penyelenggaraan layaknya sebuah turnamen. Tetap ada tahapan hingga masuk pada babak final. Rencananya Jogja Gelut Day akan berlangsung selama tiga hari.

“Wasite internasional. Jadi acaranya akan ada tiga hari nanti. Hari pertama seleksi kita pecah karena banyak, di beberapa sasana yang kita pilih nanti seleksi di situ. Tahap kedua di cafe dan ketiga ditempati wisata,” ujarnya.

Tentang pemilihan lokasi wisata, Erix memiliki alasan tersendiri. Dia memandang wisata di Jogjakarta terdampak paling tinggi. Adanya stigma negatif membuat kunjungan wisata menurun.

“Karena orang takut mikir pingin ke Jogja, nah sekarang kita kembalikan itu dengan membuat ini menjadi hiburan, jadi sport tourism. Nanti ada hiburan musiknya juga. Jadi memang dibikin wah supaya semakin bergengsi, kan semakin menjadi kebanggan setiap orang,” katanya.

Dalam konsepnya, Jogja Gelut Day akan berlangsung rutin. Rencana awal selama 4 bulan sekali. Terdiri dari beberapa kelas yang terbagi dari usia dan berat badan.

Meski insiatif berangkat dari personal, namun Erix tak menutup kemungkinan kerjasama organisasi perangkat daerah (OPD). Terutama yang membidangi remaja dan olahraga. Sehingga benar-benar menjadi upaya bersama dalam menangani aksi kejahatan jalanan dan kenakalan remaja.

“Tapi memang sejauh ini kita belum ada support dari siapapun kecuali dari masyarakat langsung. Ini sih aku pengen banget untuk pengajuan ke Piala Raja kalau bisa, itu baru wacana. Walaupun memang nanti ada piala raja atau enggak pun tetap jalan,” ujarnya. (Dwi)

Jogja Raya