RADAR JOGJA – Erix Soekamti menilai aksi kejahatan jalanan dan kenakalan remaja di Jogjakarta sudah tidak wajar. Ini karena targetnya adalah melukai bahkan menghilangkan nyawa seseorang. Baginya aksi tersebut sudah sangat merugikan bagi masyarakat.

Pentolan grup band Endank Soekamti ini optimis energi aksi kejahatan jalanan bisa dialihkan. Wujudnya dengan menghadirkan sebuah wadah. Tujuannya agar para remaja dapat menyalurkan energi berlebih ke arah yang lebih positif.

“Ya itu masalahnya tidak banyak orang yang mendapatkan ruangan yang benar. Nah anak-anak sekolah ini kan enggak semuanya dapat apresiasi. Mereka-mereka yang merasa tersisihkan di sekolah tidak di apresiasi larinya bisa negatif termasuk nakal,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (8/4).

Erix tak menampik masa mudanya juga tergolong nakal. Bahkan sekolahnya juga berhenti atau drop out. Hanya saja, kala itu pergaulan lingkungan dan rumahnya tepat. Sehingga dapat menyalurkan energi ke arah positif.

Dalam lingkungan yang tepat, energi dapat tersalurkan secara optimal. Hingga akhirnya muncul ide-ide kreati dalam bermusik. Imbasnya pikiran ke arah tindakan negatif akan terkikis.

“Jadi di ekosistem yang aku huni itu, aku mendapatkan apresiasi, mendapatkan ruang. Nah aku akan sibuk di situ. Pasti orang yang sudah mendapatkan apresiasi dan ruang untuk mengaktualisasi diri pasti akan sibuk di situ,” bebernya.

Inipula yang menginspirasi Erix mengadakan Jogja Gelut Day. Bersama teman-temannya di Jogja MMA, dia ingin mewadahi energi para remaja. Sehingga tidak menjadi pelarian ke arah negatif dan merugikan.

Menurutnya Jogja Gelut Day hanyalah sebuah contoh. Erix juga berharap ada gerakan serupa di Jogjakarta. Bisa dengan konsep olahraga maupun kegiatan positif lainnya.

“(Aksi kejahatan jalanan) sangat meresahkan warga, itu banget. Nah kami mencoba memberi satu wadah, baru satu wadah gitu loh. Mungkin kan nanti Jogja bagian mana akan ikut berkontribusi itu akan lebih bagus. Bisa wadah lain tidak hanya di sport,” ujarnya.

Erix menilai masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Sehingga wajar apabila mencari wadah untuk menyalurkan energi. Tentunya perlu kendali agar tak menjadi penyaluran yang negatif.

“Nah orang-orang seperti aku ini kan pasti sibuk dengan ruanganku sendiri. Nah ada beberapa temen yang memang tidak mendapatkan ruangan itu, dia cari-cari ruangan sendiri. Analoginya semudah itu lah,” katanya. (Dwi)

Jogja Raya