RADAR JOGJA – Bedug Kyai Bagelen atau yang juga dikenal dengan nama Bedug Pendowo, merupakan salah satu bukti perkembangan syiar Islam di Kabupaten Purworejo. Bedug yang diyakini terbesar di dunia ini berada di serambi Masjid Jami’ Darul Muttaqin Purworejo, tepatnya di Kampung Kauman, Desa Sindurjan.

Masjid yang dikenal dengan nama Masjid Agung Purworejo ini dibangun pada masa pemerintahan Bupati Purworejo I Raden Ngabehi Resodiwiryo berjuluk R. Adipati Tjokronegoro I. Selepas perang Jawa, pada medio 1834. Berdasarkan sejarah, pembuatan Bedug Kyai Bagelen tidak bisa dilepas dengan berdirinya Masjid Agung Purworejo di atas tanah wakaf seluas 70 x 80 meter persegi dengan ukuran 21 x 22 meter persegi, ditambah gandok berukuran 10 x 21 meter persegi.

“Setelah berakhirnya Jawa (1825–1830), Pemerintah Hindia Belanda mengangkat R. Adipati Tjokronegoro I sebagai bupati di wilayah Tanah Bagelen, Patihnya bernama Raden Cokrojoyo. R. Adipati Tjokronegoro I saat menjalankan pemerintahan Kabupaten Purworejo saat itu membangun sejumlah infrastruktur. Salah satunya Masjid Agung Purworejo ini,” ucap salah seorang petugas keamanan Masjid, Toriq Achmad, 50, warga Sindurjan (31/3).

Dijelaskan, sejarah pembangunan Masjid Agung Purworejo yang berada tepat di sisi barat Alun-Alun Purworejo ini dikuatkan dengan bukti berupa prasasti yang sampai saat ini masih terpajang di atas pintu utama masjid. Masjid Agung Purworejo sampai saat ini juga masih aktif digunakan untuk beribadah. Jujukan para peziarah dari berbagai kota di Indonesia.

Bedug Kyiai Bagelen ini adalah magnet utama Masjid Agung Purworejo. Bedug memiliki garis tengah bagian depan 194 sentimeter, garis tengah bagian belakang 180 sentimeter, panjang 292 sentimeter dengan keliling bagian depan 601 sentimeter serta bagian belakang 564 sentimeter. Diameter tengah depan 194 sentimeter, diameter tengah belakang 180 sentimeter, jumlah paku penambat lulang depan 120 buah, dan paku belakang 98 buah. “Bedug ini dibuat dari bonggol jati bercabang lima (Pandawa) dari daerah Dukuh Pendowo, Desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo,” jelasnya.

Pohon jati raksasa itu batangnya juga digunakan sebagai tiang masjid, ranting-rantingnya sebagai atap masjid. Bedug dibuat di Dukuh Pendowo, kemudian diboyong menuju Masjid Agung Darul Muttaqin oleh R Tjokronegoro I dengan memerintahkan seorang ulama Dusun Solotiyang, Desa Maron, Kecamatan Loano bernama Kiai Irsyad. Bedug raksasa itu kemudian diberi nama Bedug Kyai Bagelen.

Secara umum bedug ini masih berfungsi. Dulu selalu dibunyikan sebagai penanda masuk waktu salat, salat Jumat dan peringatan hari besar muslim, termasuk saat detik-detik peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. “Kalau sekarang hanya dibunyikan saat salat Jumat dan hari- hari besar saja. Sebagai penanda waktu masuk salat lima waktu dibuatkan bedug sendiri, ukurannya lebih kecil di sebelah utara. Ya, untuk menjaga agar tetap awet,” jelasnya.

Diboyong 9 Km  dari Desa Pendowo Prasasti yang terpajang di atas pintu utama Masjid Agung Purworejo itu memiliki angka tahun 1762 atau 1834 Masehi. Sebuah angka yang menjadi penanda dibuatnya Bedug Kyai Bagelen bersamaan selesainya pendirian bangunan Masjid Agung Purworejo.

Selesain membangun masjid, Bupati Purworejo R Tjokronegoro I muncul gagasan melengkapi masjid dengan bedug istimewa. Gagasan itu ditangkap Mas Tumenggung Prawironegoro (Wedana Bragolan) yang tak lain adik kandung R Tjokronegoro I untuk membuat bedug dari pangkal (bongkot) pohon jati dari Dusun Pendowo. Pohon jati raksasa berumur ratusan tahun dan bercabang lima.

Sejarah lisan yang menarik lainnya dari Bedug Kyai Bagelen yakni proses pemindahannya. Bedug dibuat di Dusun Pendowo, Kecamatan Purwodadi Purworejo, kemudian diboyong ke Masjid Agung Purworejo di pusat kota yang berjarak kurang lebih 9 kilometer. Bupati Tjokronegoro I atas usul adiknya Raden Tumenggung Prawironegoro akhirnya mengangkat KH Muhammad Irsyad yang kala itu menjabat kaum (naib) Desa Solotiyang, Kecamatan Loano, untuk memimpin proyek pemindahan bedug ini.

Bedug kemudian dipindahkan beramai-ramai, diiringi gamelan lengkap, penari tayub menanti di setiap pos perhentian, bedug legendaris itu akhirnya tiba di Masjid Agung Purworejo, melalui perjalanan yang jauh dan melelahkan. Setelah 102 tahun digunakan, tepatnya pada 3 Mei 1936, kulit bedug bagian belakang yang diambilkan dari kulit banteng rusak, kemudian diganti dengan kulit sapi Ongole (Benggala) dan sapi Pemacek dari Desa Winong, Kecamatan Kemiri, Purworejo.

“Ya, di bagian dalam bedug ada gong besar. Berfungsi untuk menambah getaran dan bunyi (anggreng),” ucap Toriq Achmad. (tom/laz)

Jogja Raya