RADAR JOGJA – Bulan Ramadan tidak bisa dipisahkan dengan bunyi suara bedug pertanda buka puasa. Seiring perkembangan zaman, bedug penanda buka digantikan dengan suara sirine menggunakan speaker di masjid. Meski begitu, di beberapa daerah masih menggunakan bedug.

“Kalau di masa lalu, suasana masih sepi, masih alami. Suara bedug dan kentongan masih terdengar jauh. Kalau sekarang kan sudah banyak kendaraan lewat dan suasana kehidupan sudah bising. Barangkali bedug dan kentongan jarang lagi terdengar,” ujar budayawan Achmad Charris Zubair (1/4).

Ia menjelaskan, pada prinsipnya bedug merupakan alat untuk memanggil. Sebab bedug memiliki resonansi suara yang cukup jauh. Sehingga cocok digunakan di masa lalu untuk memanggil. “Sebetulnya bedug sekarang dikenal sebagai pelengkap masjid, terutama masjid yang lama. Kalau masjid baru kan pengeras suara. Prinsipnya bedug dibunyikan sebelum adzan untuk panggilan salat,” tegasnya.

Lebih lanjut ketua umum Kagama Filsafat UGM ini menyatakan, banyak versi yang menyebutkan bedug berasal dari Tiongkok. Bedug ditempatkan di kuil-kuil dan tempat ibadah yang berfungsi memanggil jamaah. Tradisi itu lantas dibawa oleh Laksamana Cheng Ho yang dikirim ke Jawa pada abad ke-14.

“Jadi ada riwayat ketika Cheng Ho datang ke Semarang. Itu kan raja penguasa Semarang mengatakan ingin dengar suara bedug di masjid-masjid, jadi dipakai itu. Sehingga masjid tradisional menggunakan alat bedug untuk mengawali saat salat datang,” jelasnya.

Cheng Ho yang konon merupakan seorang muslim yang taat, berupaya menghadirkan nuansa suara bedug seperti di negara asalnya. Lantas ia hadirkan bedug di masjid-masjid. Di sisi lain, bedug juga merupakan alat musik perkusi yang dipukul. Bedug banyak ditemui dari Tiongkok atau India. “Kalau di China itu ada di kuil-kuil,” tambahnya. (cr4/laz).

Jogja Raya