RADAR JOGJA – Masyarakat Jawa mempunyai tradisi ruwahan menjelang bulan Ramadan. Mereka membuat kue apem sebagai sarana mendoakan leluhur. Apem dibuat, lantas dibagikan kepada tetangga dan sanak saudara.

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIJ Dwi Ratna Nurhajarini mengatakan, hampir semua ritual upacara tradisional Jawa menggunakan apem sebagai sesaji. Apem sebagai simbol tolak bala dan ungkapan syukur. “Dalam ruwahan masuk dalam ranah sesaji atau sarana saja untuk ucap syukur,” ujarnya Jumat (25/3).

Menurutnya, ada nilai yang berkurang saat tradisi itu berkembang. Dahulu setiap keluarga membuat apem dan nilai-nilai itu diturunkan. Semakin bertambah sibuk, lantas tradisi apeman dilakukan bersama-sama. “Tradisi apeman yang dulu ada di setiap keluarga, sekarang mungkin 10 tahun terakhir banyak diplot ke RT dan dasawisma,” ujarnya.

Dikatakan, ada hal yang tidak terwariskan ketika diambil dasawisma atau PKK, walaupun dalam konteks sekarang sibuk sehingga difokuskan di suatu tempat. “Tetapi di tingkat keluarga tidak intens seperti dulu,” jelas Dwi Ratna.
Meski begitu ia memaklumi dengan kondisi masyarakat yang semakin sibuk. Meski begitu, apeman yang dilakukan bersama-sama dapat meningkatkan kegotong-royongan di masyarakat.

“Untuk mensiasati kesibukan dan waktu. Semua membawa konsekuensi perkembangan zaman yang berubah, jadi solusi taktis tradisi tetap lanjut. Saya tetap anggap itu positif,” ujarnya. (cr4/laz)

Jogja Raya