RADAR JOGJA – Diabetes Mellitus (DM) atau yang sering dikenal dengan sebutan penyakit gula merupakan salah satu penyakit yang jumlahnya terus meningkat di Dunia. Tidak hanya pada masyarakat perkotaan saja yang menderita penyakit DM, tetapi saat ini sudah mulai meningkat pada kelompok masyarakat yang tinggal di pedesaan. Selain penyakit gula, jumlah masyarakat yang terdiagnosis hipertensi juga terus meningkat.

Berdasarkan laporan Riskesdas 2013 dan 2018 menyebutkan bahwa Provinsi DI Yogyakarta (DIY) merupakan provinsi dengan angka kejadian DM dan Hipertensi tertinggi kedua di Indonesia. Hal ini menjadi keprihatinan karena kedua penyakit tersebut berkontribusi terhadap produktivitas masyarakat.

Salah satu penyebab meningkatnya DM dan hipertensi tersebut adalah perilaku hidup tidak sehat. Selain itu, ketidakpahaman masyarakat dalam melakukan deteksi dini DM dan hipertensi menjadi permasalahan serius yang harus segera selesaikan. Upaya yang dapat kita lakukan adalah melakukan skrining untuk mendeteksi terjadinya DM dan hipertensi. Deteksi tersebut akan lebih baik jika dilakukan sedini mungkin.

Dr dr Mahendro Prasetyo Kusumo, MMR (dr Mahe) adalah Dosen Faultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY yang berperan sebagai ketua kegiatan pengabdian masyarakat ini mengungkapkan bahwa kader yang berasal dari masyarakat dapat dirangkul untuk dilatih sebagai promotor kesehatan untuk skrining kesehatan masyarakat.

Beliau menyampaikan bahwa DM dan Hipertensi merupakan jenis penyakit tidak menular yang disebabkan oleh banyak faktor. Faktor riwayat keluarga dapat membuat seseorang rentan mengalami penyakit yang sama apabila kesehatannya tidak dijaga dengan baik.

Keberadaan kader yang dekat dengan masyarakat dapat menjadi kunci untuk melakukan deteksi dini kasus DM dan Hipertensi di masyarakat. Menurut Ciptadi selaku Kepala Lurah Desa Ngeposari mengungkapkan bahwa penurunan produktivitas masyarakat akibat tidak terkendalinya tekanan darah dan gula dalam darah bukan lagi urusan tenaga kesehatan saja. Ciptadi mengakui bahwa perlu adanya kolaborasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat untuk menanggulangi kasus tersebut.

Dr. Mahe selaku ahli Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat menuturkan bahwa kader kesehatan merupakan ujung tombak yang harus kita rangkul dalam menanggulangi permasalahan kesehatan di masyarakat.

“Selama ini kan tenaga kesehatan yang bisa terjun langsung dan dekat dengan masyarakat jumlahnya sangat terbatas”, pungkasnya.

Ia menilai bahwa masyarakat harus lebih mandiri dalam menjaga kesehatannya. Pengabdian Maysarakat ini Bekerjasama dengan Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, Sport&Circ.Med, AIFM sebagai dosen Fisiologi di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM yang dibiayai oleh Lembaga Pengamdian Masyarakat (LPM) UMY. Kegiatan pengabdian juga melibatkan mahasiswa KKN UMY yang dilakukan oleh tim Mahendro di Desa Ngeposari Kecamatan Semanu Kabupaten Gunung Kidul.

Pengabdian ini mengajarkan semua kader di Kelurahan Ngeposari untuk dapat melakukan deteksi dini kasus DM dan Hipertensi secara sederhana dan Mandiri. Melalui pemberdayaan masyarakat tersebut, diharapkan masyarakat bisa lebih paham tentang kondisi kesehatannya serta lebih sadar cara menjaga kesehatannya dalam jangka panjang. (*/Dwi)

Jogja Raya