RADAR JOGJA – Teknologi pertanian terus berkembang. Bahkan berbagai alat canggih sengaja diciptakan. Agar petani tetap resik saat mengurus sawahnya. Hal ini ternyata bertolak belakang dengan cita-cita warga Padukuhan Jodog, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Bantul. Mereka justru ingin mempertahankan sistem pertanian tradisional.

Dukuh Jodog, Bayu Yunarko, menuturkan ada lima petani di wilayahnya yang masih mempertahankan sistem pertanian tradisional. Di mana kelimanya masih memberdayakan sapi untuk membajak sawah. “Ini kami dukung,” cetusnya diwawancarai Radar Jogja Senin (28/2).

Bukan tanpa alasan, ternyata pembajakan sawah secara tradisional memiliki daya tarik wisata. Hal ini sesuai dengan misi Padukuhan dan Kalurahan Gilangharjo. “Ini dikembangkan oleh Pemerintah Kalurahan Gilangharjo sebagai destinasi wisata,” ungkapnya.

Untuk itu, Bayu bersama Komunitas Jodog Karangasem Wisata (Jodogkarta) membangun sinergi. Mereka menyusun paket agar wisatawan dapat menikmati sensasi naik gerobak sapi sekaligus mempelajari sistem pertanian tradisional. “Akan kami sediakan sawah khusus untuk belajar membajak pakai sapi,” sebutnya.

Lebih lanjut pria 40 tahun ini menyebut, warganya yang mempertahankan sistem pertanian tradisional merupakan pemilik sapi. Sehingga mereka memilih memberdayakan sapi. Selain itu, pembajakan sawah menggunakan sapi dipercaya dapat mempertahankan dan menambah kesuburan sawah. Di mana kotoran sapi saat membajak, dapat tercampur dengan tanah persawahan. “Itu kan jadi pemupukan organik,” cetusnya.

Lurah Gilangharjo, Pardiyono membenarkan, dirinya ingin mengembangkan pariwisata. Dalam upayanya itu, Pemkal Gilangharjo bersinergi dengan Komunitas Jodogkarta. Sebab gerobak sapi yang dimiliki oleh anggota komunitas dapat jadi moda transportasi penarik wisatawan. Kemudian, meluaskan wisata ke potensi lain yang ada di Gilangharjo. “Di sini (Kalurahan Gilangharjo, Red) masih ada perajin besi yang dibuat secara manual, ada juga budidaya ikan hias, sama ada situs bersejarah,” bebernya.

Menurut penuturan leluhurnya, Pardiyono pun percaya, konon gerobak sapi merupakan alat transportasi yang digunakan oleh Panembahan Senopati saat akan membangun Mataram Islam. “Kanjeng Panembahan ke Gilangharjo, bawa empu untuk babad alas (membuka wilayah). Untuk transportasinya, berupa gerobak sapi,” sebutnya.

Berdasar kepercayaan itu, Pardiyono berkomitmen untuk melestarikan seluruh komponen pendukung gerobak sapi. Termasuk pembajakan sawah yang dilakukan secara tradisional menggunakan sapi. Berikut pengemudi gerobak yang akrab disebut bajingan. “Setelah kami bertemu para bajingan, kami pusatkan pengembangan wisata gerobak sapi di Gilangharjo. Karena dekat situs Selo Gilang di Gilangharjo,” tandasnya. (fat/bah)

Jogja Raya