RADAR JOGJA – Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta memiliki gelanggang mahasiswa yang populer pada masanya. Gelanggang mahasiswa diresmikan 31 Juni 1975 oleh Menteri Dalam Negeri Letnan Jenderal TNI Amir Machmud. Gedungnya berdiri kokoh, tepatnya di deretan sebelah kiri dari lokasi pintu masuk Bunderan UGM. Di sinilah pusatnya pergerakan aktivis mahasiswa se-Jogjakarta dan menjadi pusat kegiatan mahasiswa tingkat universitas.

Bagi Arie Sujito, dosen sosiologi sekaligus mantan aktivis Gelanggang Mahasiswa UGM, gedung itu menyimpan banyak kenangan. Lokasi ini sebagai sentral aktivitas tidak hanya kalangan aktivis, tetapi juga kegiatan mahasiswa separti teater, pecinta alam, olahraga, seni, drumband, tempat diskusi-diskusi, bahkan markas sembunyi saat aksi demonstrasi.

“Kegiatannya cukup banyak, karena sentral semua orang kenal. Bahkan mahasiswa kampus lain kerap bergabung di gedung ini,” ungkap Arie saat dihubungi Radar Jogja, Jumat malam (11/2).

Lokasi Gelanggang Mahasiswa UGM yang dekat dengan Bunderan UGM ini strategis bagi mahasiswa. Khususnya mahasiswa yang kerap melakukan aksi demonstrasi. Berkumpul di gelanggang ini kemudian demo di bunderan. Untuk menghindari aparat, maka mahasiswa bersembunyi di gelanggang.

“Kami dulu aksi gerakan mahasiswa di bunderan dikejar-kejar polisi, lalu bentrok di bunderan, ya larinya ke gelanggang. Kan aman karena aparat dilarang masuk kampus,” kenang Arie.

Arie merupakan aktivis sejak menjadi mahasiswa UGM. Dia sendiri kerap kali berdiskusi di lokasi tersebut. Bahkan dia juga mengikuti latihan pencak silat di sana. “Dulu sangat ramai, suasananya hidup, setiap hari ada aktivitas,” ujarnya.

Gelanggang Mahasiswa UGM sendiri memiliki sejarah panjang. Pada 1970-an menjadi pusat pergerakan aktivis ketika Dewan Mahasiswa UGM berkantor di bangunan itu. Lalu pada 1980 sampai 1990-an, gelanggang mahasiswa dipergunakan sebagai sekretariat organ-organ eks Dewan Mahasiswa yang telah berdiri sebagai unit kegiatan mahasiswa (UKM).

Akibat kebijakan normalisasi kehidupan kampus, pada 1978 Dewan Mahasiswa dibubarkan. Kemudian gelanggang mahasiswa digunakan sebagai pusat kegiatan mahasiswa dan sekretariat unit Kegiatan mahasiswa tingkat universitas hingga 2020.

Pertengahan 2020, bangunan lama Gelanggang Mahasiswa UGM dibongkar dan akan dibangun gedung baru, tetapi tidak mengurangi fungsi sebelumnya, sebagai pusat kegiatan mahasiswa UGM.

Bagi Arif Nurcahyo yang kini menjabat Kepala PK4L (Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan) UGM, Gelanggang Mahasiswa UGM bukan sekadar tempat (place), tapi spirit (space tanpa batas). Sekaligus wajah UGM sesungguhnya. “Artinya, ketika ketemu podo cah gelanggang, mereka merasa berada di gelanggang,” ujar alumni Psikologi UGM angkatan 1983 ini.

Dikatakan, orientasi cah gelanggang memiliki parameter yang unik. Keberhasilan bukan pada “prestasi” berupa piala, tapi bagaimana mereka berproses untuk mewujudkan sebuah kegiatan. Kesadaran bahwa implementasi konsep lebih penting dari pada hasil, membuat mereka terbiasa bermain jaringan, relasi, dan trust.

“Terpelihara sampai jadi alumni. Sehingga cah gelanggang dikenal entengan dan militan. Terutama untuk kegiatan sosial kemanusiaan,” katanya. Gelanggang Mahasiswa UGM awalnya bagian dari UGM dalam memfasilitasi aktivitas mahasiswa yang tergabung dalam UKM. Namun kenyataannya UKM olahraga maupun kesenian hanya sebagai pintu masuk saja. Setelah berada di dalam, mereka cair dalam kegiatan bersama dan saling membantu.

“Cah gelanggang terbiasa bekerja sama dalam perbedaan. Beda UKM, beda fakultas, beda suku, beda agama, dan sebagainya. Itulah salah satu alasan bahwa gelanggang sebagai wajah UGM yang sesungguhnya. Secara akademis mungkin tidak menonjol to kematangan sosial, kedewasaan lebih teruji sehingga lebih cepat menyesuaikan diri dalam dunia kerja,” ungkap Arif.

Bahkan, lanjut Arif, cah gelanggang menjadi password untuk bercanda. “Ada gojekan kere yang menyebutkan, cah gelanggang ki mesti mahasiswa UGM ning mahasiswa UGM durung mesti cah gelanggang. Gelanggang Mahasiswa UGM menjadi rumah kedua bagi cah gelanggang sekaligus menjadi kawah candradimuka. Mengenal dan menjadi Gadjah Mada sesungguhnya,” ungkap pria yang dulu di gelanggang aktif di unit kegiatan teater dan judo ini. (mel/laz)

Jogja Raya