RADAR JOGJA – Kepala Balai Besar Teknologi Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jogjakarta Irene membenarkan pihaknya telah memeriksa 4 sampel Covid-19. Metodenya dengan PCR S-gene target failure (SGTF). Hasilnya terdiagnosa probable Omicron.

Pasca pemeriksaan SGTF, pihaknya lanjut dengan Whole Genome Sequencing (WGS). Guna memastikan apakah keempat pasien tersebut terpapar Covid-19 varian Omicron. Hanya saja untuk hasil di tahapan tersebut masih menunggu waktu.

“Kami baru periksa pakai PCR SGTF jadi kalau PCR SGTF diagnosanya probable Omicron. Harus  lanjutkan ke WGS, tapi saat ini masih menunggu hasilnya. Tapi si pasien sudah ditangani secara Omicron oleh Dinkes setempat,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (25/1).

Hasil SGTF, lanjutnya, telah keluar Senin (24/1). Sehingga pihaknya bisa dapat lanjut ke proses pemeriksaan WGS. Hasil ini juga telah diteruskan ke Dinas Kesehatan Gunungkidul dan Dinas Kesehatan DIJ. Untuk ditindaklanjuti dengan tindakan medis yang efektif.

Sementara terkait tracing, Irene memastikan sudah berhenti. Ini karena keempat sampel yang dikirim sudah final. Dalam artian tidak ada tambahan sampel pasca tracing kontak erat.

“Dan sudah dilakukan tracing enggak ada lagi perkembangan kasus. Kemarin kita laporkan, ya Senin kitas masukin laporannya. Benar dari Gunungkidul,” katanya.

Irene memastikan laboratorium BBTKLPP bisa memeriksa PCR SGTF. Cara ini lebih optimal dalam mendeteksi Omicron. Tujuannya agar varian terbaru ini bisa terdeteksi lebih awal.

Strategi ini bertujuan menekan angka sebaran Omicron secara dini. Meski hasil dari pendeteksian ini tergolong sebagai probable Omicron. Namun setidaknya dapat menjadi antisipasi selama menunggu hasil dari Whole Genome Sequencing keluar.

“Mesinnya mesin PCR biasa tapi reagen kami pakai reagen SGTF. Reagen SGTF itu yang memang khusus untuk mendeteksi adanya Omicron. Tetapi dari PCR hanya bisa mendiagnosa portable Omicron jadi tidak bisa langsung Omicron. Untuk pastikan tetap dengan Genome Squencing,” ujarnya.

Pemeriksaan WGS, lanjutnya, juga bisa berlangsung di BBTKLPP. Hanya saja tetap menunggu jeda waktu hingga hasil terbit. Selain itu juga menunggu terkumpulnya sampel untuk pemeriksaan dalam satu kali pemeriksaan.

“Jadi WGS kita nunggu sampai sampelnya cukup banyak, karena kalau kita running satu sampel saja nanti boros. Jadi tunggu kalau sampel sudah mencukupi running ya kita running,” katanya.

Atas terbitnya SGTF, Irene mengimbau tindakan penanganan Covid-19 optimal. Berupa penanganan oleh Satgas Covid-19 wilayah. Berupa tindakan medis dengan standar penanganan pasien secara Omicron.

Dengan melakukan isolasi, maka pasien tak akan bermobilisasi. Tujuannya agar sebaran Omicron tidak semakin masif. Walau upaya pendeteksian lebih berat karena gejalanya tidak seberat varian Delta.

“Cuma penularannya cepat jadi protokol kesehatan tidak boleh lupa. Orang-orang vaksin lagi sekarang kan ada vaksin booster,” ujarnya. (dwi)

Jogja Raya