RADAR JOGJA – Kepala SDN Lempuyanwangi Esti Kartini pastikan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolahnya tetap kondusif. Para siswa kelas VI A dan kelas VI B sementara waktu menggunakan ruang kelas II. Hal ini berlangsung selama kedua kelas ini dalam tahap renovasi.

Perpindahan kelas ini terjadi karena kedua kelas tersebut terbakar. Berawal dari konsleting listrik yang menyebabkan munculnya percikan api, Sabtu malam (15/1). Pemicu api ini langsung menyambar sejumlah tumpukan buku. Hingga akhirnya merambat ke pintu, jendela dan eternit kelas.

“Pada dasarnya memang musibah, tapi kegiatan PTM tetap berjalan dengan baik dari tadi pagi pukul 07.00 WIB hingga kepulangan. Siswa kelas VI A dan kelas VI B sementara pindah ke ruang kelas II,” jelasnya ditemui di SDN Lempuyangwangi Kota Jogja, Senin (17/1).

Belum berlakunya PTM 100 persen di Kota Jogja menjadi keuntungan sendiri bagi SDN Lempuyangwangi. Ini karena sekolah bisa menerapkan pembelajaran secara bergantian. Sehingga seluruh siswa tetap bisa tertampung selama PTM berlangsung.

PTM di SDN Lempuyangwangi berlaku untuk kelas I, kelas III, kelas V dan kelas VI. Sehingga ruang kelas milik siswa kelas II dan IV tak terpakai. Kapasitas ruang kelas juga masih ideal untuk menampung para siswa kelas VI A dan kelas VI B.

“Apabila sudah 100 persen, kami memiliki ruang lain. Nanti pakai ruang rapat yang kondusif untuk pembelajaran kelas VI. Satu kelas itu ada 28 siswa, masih ideal,” katanya.

Esti menceritakan kebakaran berawal dari konsleting listrik di kelas VI A. Lokasi kelas yang bersebelahan membuat kelas VI B ikut terbakar. Untungnya peristiwa kebakaran cepat diketahui oleh penjaga sekolah. Sehingga kobaran api tidak menyebar.

Untuk kerusakan adalah hangusnya pintu, jendela, tembok dan eternit kedua kelas. Waktu perbaikan, lanjutnya, tidak bersifat segera. Ini karena pihak sekolah sedang melakukan pengecekan ke Dinas Kebudayaan Kota Jogja. Guna memastikan apakah bangunan sekolah masuk sebagai cagar budaya atau tidak.

“Sebenarnya tidak terlalu parah tapi hangus jelaga hitam. Perlu diperbaiki dengan pengecatan ulang. Masih cek dulu ke Dinas Kebudayaan apakah ini bangunan cagar budaya atau tidak,” ujarnya.

Sementara itu, Esti memastikan para orangtua tidak mempermasalahkan perpindahan kelas. Ini karena kondisi diluar kendali pihak sekolah. Para orangtua justru bergotong royong membersihkan sekolah selang sehari setelah peristiwa kebakaran, Minggu (16/1).

“Orangtua ikut membersihkan kelas yang terbakar. Kami pastikan anak-anak tetap dapat fasilitas dan pembelajaran seperti biasa. Kami juga minta para orangtua menyemangati anaknya agar tak terpengaruh dengan peristiwa tersebut,” katanya. (dwi)

Jogja Raya