RADAR JOGJA – Jamu tradisional menjadi salah satu minuman alternatif untuk meningkatkan daya tahan tubuh dikala Pandemi Covid-19. Tak hanya itu, jamu juga dipercaya dapat meringankan berbagai penyakit. Seperti sakit perut, masuk angin, batuk dan keluhan ringan lainnya.

Salah satu yang masih bertahan dengan kedai jamu tradisional adalah Jamu Ginggang. Beralamatkan di Kemantren Pakualaman, Kota Jogja, kedai ini menyajikan konsep minum jamu ala kafe. Usai memesan, pembeli dapat langsung minum di tempat.

Keistimewaan Jamu Ginggang tak sampai di situ. Usut punya usut Jamu Ginggang ini merupakan usaha turunan yang telah dirintis sejak tahun 1925. Saat ini dikelola oleh Ike Yulita Astiani yang merupakan keturunan kelima.

“Jamu ini racikan dari leluhur yang merupakan abdi dalem Kadipaten. Simbah Canggah saya yang bernama Joyo Tan Genggang merupakan abdi dalem Pakualaman yang ke tujuh. Diberi kemampuan meracik jamu tradisional,” jelasnya ditemui di Warung Jamu Ginggang, Kamis (13/1).

Awalnya racikan jamu hanya disajikan kepada kerabat Kadipaten Pakualaman. Seiring waktu berjalan, racikan jamu mulai diperjualbelikan. Berawal dari membuka lapak kecil hingga akhirnya bisa menyewa sebuah kios.

Konsep minum jamu ala kafe ini dimulai sejak tahun 1950. Tujuannya agar pembeli nyaman saat mengonsumsi jamu. Keluarganya sampai menyewa tempat dan mengisinya dengan kursi serta meja.

“Kami kembali ke masyarakat yang sangat antusias, sangat cocok dengan jamu kami,” kata Ike.

Berbagai jenis jamu tersaji di kedai Jamu Ginggang, mulai dari beras kencur, kunyit asem, parem, paitan, jamu pegal, galian singset, dan beberapa jenis jamu lainnya yang dibanderol dengan harga mulai dari Rp 6 ribu hingga Rp 25 ribu.

Tentang sejarah nama, Jamu Ginggang, diambil dari kata Tan Genggang. Memiliki makna tansah genggang atau terciptanya persahabatan dan kekeluargaan. Nama ini disematkan langsung oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Sri Paduka Paku Alam VII.

“Juga bermakna tidak ada jarak antara kerabat Keraton dengan masyarakat di lingkungan Pakualaman,” ujar Ike.

Salah satu pengunjung, Hendi mengaku sudah dua tahun lamanya menjadi langganan Jamu Ginggang. Baginya, Jamu Ginggang memiliki racikan yang pas sehingga banyak manfaat yang dia rasakan, mulai dari tubuh yang terasa hangat hingga dapat meningkatkan imunitas sehingga tak mudah terserang penyakit.

“Saya suka Jamu Ginggang ini karena asli dari ramuan tradisional sejak jaman dulu. Rasanya tetap sama dan terasa. Badan terasa bugar setiap minum di sini. Kalau ada teman yang cari jamu selalu saya rekomendasikan Jamu Ginggang ini,” kata Hendi. (co1/dwi)

Jogja Raya