RADAR JOGJA – Dibantu Budenya, Mayla kini mengurus toko kelontong peninggalan ayahnya. Gadis 12 tahun ini mencoba tabah, demi adik usia tiga tahun yang kini menjadi tanggung jawabnya setelah ayahnya meninggal akibat Covid-19.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Hari yang cerah bersanding cuaca panas, Mayla beberapa kali menyeka keringat di kening menggunakan ujung jilbab. Sementara sang adik, Maysa, sudah tak betah dan menanggalkan jilbabnya. Kipas angin sudah dinyalakan. Tapi ruangan yang penuh orang, membuat udara yang masuk tak cukup menyejukkan.

Mayla mendapat kunjungan banyak pembesar pada Sabtu (8/1) siang. Mulai kepala Dinas Sosial Bantul, kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Bantul, sampai anggota Dewan Pertimbangan Presiden Muhamad Mardiono. Tubuh kecil Mayla bersandar pada sebuah dinding saat mendengar diskusi para pembesar. Sedangkan adiknya, terus bergelayut di pelukan sang Bude.

Dalam sela waktu makan siang, Mayla mengakui dirinya kesulitan. Terhitung sudah lima bulan belakangan ia menjadi yatim piatu. Setelah ayahnya, Maryadi, berpulang ke pangkuan Yang Maha Esa pada bulan Juli 2021. Maryadi meninggal akibat terpapar Covid-19. Menyusul kepergian yang istri, Emilia, yang mendahuluinya akibat komplikasi setahun sebelumnya. “Biasanya…,” ucapan Mayla terhenti, kemudian menunduk dan melanjutkan, “sekarang nggak ada teman cerita.”

Kini Mayla tinggal bertiga di rumahnya, Paker RT 04, Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul. Selain bersama sang adik, Mayla tinggal bersama simbahnya, Musimen, yang sudah berusia 80 tahun. “Kalau ada yang rusak di rumah, saya benerin sendiri,” bebernya.

Siswi kelas VII SMPN 1 Kretek ini pun mulai merasa tidak betah di rumah. Sebab, kerap kali dia larut dalam ingatan dan terkenang ayahnya. Menyiasati itu, Mayla menambah aktivitasnya di sekolah. “Jadi jualan toko dibantu sama Bude,” sebutnya, berusaha tegar dengan melemparkan senyum.

Mayla kemudian beralih menceritakan sang adik, Maysa. Kendati masih berusia tiga tahun, adiknya sudah pandai mandi sendiri. Hal itu cukup mengurangi beban Mayla. Hanya saja, Maysa kerap sulit makan. Mengakali itu, Mayla kerap memutarkan siaran film kartun di televisi agar Maysa mau duduk diam. “Kadang emosi, jaga adik yang usianya masih tiga tahun. Rewel sama mainan juga,” ungkap gadis yang ingin melanjutkan sekolah sampai jenjang perguruan tinggi itu.

Cita-cita Mayla tentu mendapat dukungan dari Mardiono. Ada lebih dari 30 ribu anak yang mengalami nasib sama dengan Mayla dan Maysa di Indonesia. Sudah jadi tugas pemerintah provinsi dan pusat untuk bergotong-royong dalam membantu anak yatim piatu yang ortunya meninggal akibat Covid-19.
“Generasi muda kita adalah penerus bangsa, calon pemimpin masa depan. Oleh karenanya kita perlu perhatikan masa depan mereka,” tegas politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini.

Mengawali langkah besar ini, Mardiono memilih Bantul sebagai lokasi pertama kunjungannya. Sebanyak sembilan anak usia tiga sampai 15 tahun disantuninya. Bantuan berupa pembayaran kebutuhan dan biaya sekolah. Dipastikan, bantuan akan diberikan sampai anak lulus SMA. “Adik-adik ini pasti mengalami luka mendalam. Jadi kami juga akan perhatikan kesehatan psikologi dan tumbuh kembangnya,” tandasnya. (laz)

Jogja Raya