RADAR JOGJA – Wahana “Ngopi in The Sky” di Pantai Muluran, Girikerto, Panggang, Gunungkidul, dipersoalkan terutama faktor keamanannya. Karena dinilai membahayakan. Apalagi dari foto yang beredar, jenis crane yang dipakai merupakan pengangkut barang, bukan orang.

Berdasarkan kacamata Dosen Departemen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM) Ashar Saputra, secara umum semua fasilitas wahana publik dapat beroperasi dengan pertimbangan tertentu. Sebelum wahana dioperasikan, sejak pengajuan gambar sebaiknya lebih dulu di cek dan dilakukan uji coba oleh pihak yang berkompeten.

Menurutnya, sama halnya membangun gedung harus ada perencanaan dan hitungan-hitungannya. Mulai dari penggambaran, spesifikasi, kapasitas, keamanan, pengujian hingga diterbitkan izin bisa dikerjakan.
“Kalau sudah dilaksanakan, selanjutnya dites lagi apakah kapasitas di lapangan itu sesuai dengan yang dihitung. Kekuatannya bagaimana, standar operasional prosedure (SOP) baik pada kondisi normal maupun dalam kondisi darurat, dan seterusnya,” kata Ashar saat dimintai tanggapan Radar Jogja kemarin (5/1). Nah, kalau sudah dinyatakan laik, lolos semuanya, baru diperbolehkan beroperasi.

Dikatakan, penarikan menggunakan crane tidak menjadi soal. Seandainya tidak menggunakan crane barang pun tidak masalah. Tetapi persoalannya bukan pada crane barang atau bukan, tetapi secara kaidah engineering dan keteknisan yang menjadi persyaratan pembangunan fasilitas publik itu poinnya. “Kalau prosedurnya tidak dipenuhi, ya tidak boleh beroperasi. Kan mestinya begitu,” cetusnya.

Selain kaidah itu, harus ada pemeliharaan pemeriksaan berkala. Misalnya alat angkut metode crane ini. Harus memiliki manual SOP. Meliputi pemeriksaan kapasitasnya, alat beratnya, hidrolik-nya, motor listik, kabel sling, vaen dan struktur yang harus dilakukan berkala. Mulai level mingguan, bulanan, hingga tahunan. (mel/laz)

Jogja Raya