RADAR JOGJA – Meski masih ada permintaan penundaan dari pedagang kaki lima (PKL) Malioboro, relokasi ke dua tempat yang baru tetap akan berjalan bulan Januari ini. Bagaimana tata kalanya, masih dalam koordinasi.

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, meski belum ditetapkan kapan pemindahan resminya, relokasi PKL Malioboro segera dilaksanakan.

“Segera kita mulai, tapi tentang tata kala dan rembugannya seperti apa, kita tunggu teman-teman di kota. Saya kira harus dirembug baik-baik antara pemkot dan para pedagang. Mudah-mudahan Januari ini sudah mulai dilakukan,” katanya Selasa (4/1).

Sementara Kepala Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop UKM) DIJ Srie Nurkyatsiwi mengatakan, jumlah PKL Malioboro yang didata masuk ke dua tempat sebanyak 1.700. Mereka akan dipindah ke dua tempat yaitu eks gedung Bioskop Indra dan eks Kantor Dinas Pariwisata DIJ. “Kedua tempat itu sudah ada dan dibangun, tinggal mempersiapkan sarana dan prasarana secara bertahap. Sambil kita melakukan koordinasi,” katanya.

Pada prinsipnya dua tempat yang disiapkan itu akan dapat menampung seluruh unsur PKL Malioboro yang terdiri atas berbagai komunitas atau paguyuban. Seperti unsur kuliner, kering, basah, dan masih banyak lainnya. Namun begitu, bagaimana tata kala pemindahannya masih dalam koordinasi lebih lanjut.
“Pasti kita koordinasi dengan kota karena yang memiliki kewenangan terhadap PKL dan penataan. Nanti si A masuk mana, B masuk mana, masih bertahap. Ini kota yang nanti akan berdiskusi dengan para pelaku,” ujarnya.

Termasuk terkait sistem penempatannya, apakah menggunakan sistem undian atau penunjukan langsung. Hal ini masih dalam tahap diskusi. Sejatinya harus ada kesepakatan dengan para PKL. Jangan sampai terpaksa menempati yang sudah disiapkan. Agar ke depan aktivitas ekonomi mereka tetap bisa berjalan aman dan nyaman.

Adapun selter penampungan di eks Kantor Dinas Pariwisata DIJ sudah selesai dibangun. Hanya tinggal pembenahan dari sisi yang lain. Sementara eks gedung Bioskop Indra tinggal menempati. Meski secara bertahap akan ada pembenahan seperti jaringan listrik, internet, air, manajemen sampah, maupun bagaimana mengatur flow pengunjung. “Kehidupan dan penghidupan mereka juga menjadi pertimbangan. Maka tidak ada retribusi dan sewa, artinya gratis menempati itu,” jelasnya.

Kebijakan gratis itu belum dapat dipastikan sampai kapan. Sembari berdiskusi lebih lanjut dengan melihat perkembangan dinamika di lapangan. Terlebih, gedung di eks Kantor Dinas Pariwisata DIJ itu belum permanen dan masih akan dikaji terus.

PKL tidak perlu khawatir karena pemprov bersama lintas OPD atau wilayah akan berupaya mensosialisasikan kepada wisatawan bahwa unsur yang tak terlepas dari Malioboro adalah para PKL, telah berpindah tempat ke dua gedung baru itu. Sehingga, wisatawan tetap akan mengetahui lokasi untuk bertransaksi ekonomi di kawasan Malioboro.

“Malioboro ini kan bukan milik golongan tertentu, sudah pasti akan ada informasi ke wisatawan. Tujuan dan goal semua ini sebenarnya kita mengarah ke kesejahteraan. Harapannya, apa yang menjadi konsep pemda ini bisa terwujud mengarah ke kebaikan,” tambahnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja Yetti Martanti enggan membeberkan soal waktu relokasi pedagang Malioboro menuju selter yang menelan angggaran Rp 2,8 miliar itu. “Tanyakan ke (Pemprov) DIJ dulu. Dengan Pak Sekda DIJ dulu, biar disampaikan sama beliau,” katanya ketika dihubungi melalui telepon.

Ketua Paguyuban PKL Tridharma Malioboro Rudiarto mengatakan, sampai sekarang belum mendapat sosialisasi terkait kapan mulai dipindah ke tempat baru. Apalagi, sarana prasarana di tempat baru belum seluruhnya terpenuhi. Sejatinya tidak ada penolakan dari anggotanya, hanya minta diberi waktu untuk menabung. Setelah mengalami keterpurukan akibat pagebluk korona.

“Kalau teman-teman berharap bisa ditunda sampai minimal habis Lebaran. Paling tidak kami diberi kesempatan dulu menutup yang kemarin. Kita juga harus menyiapkan segala sesuatu, mental dan sebagainya karena akan menempati tempat dengan nuansa baru,” katanya.

Total PKL paguyuban Tridharma yang bakal direlokasi 920 pedagang, akan mendapat lapak di selter bekas Kantor Dinas Pariwisata DIJ. Keseluruhan anggota paguyuban Tridharma sebanyak 934, namun 14 pedagang di antaranya tidak terakomodasi, karena secara organisasi atau aktivitas mereka sudah tidak aktif sejak lama. (wia/laz)

Jogja Raya