RADAR JOGJA – Masih mempertimbangkan prinsip kehati-hatian, pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di wilayah DIJ masih terbatas dengan kapasitas antara 50-75 persen. Pelaksanaan sekolah luring secara penuh ditargetkan terlaksana sekitar akhir Januari.

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, seluruh sekolah sudah menggelar PTM secara serentak awal semester dua tahun pelajaran 2021/2022 kemarin (3/1). Hanya, metode pelaksanaannya masih dilakukan terbatas. “Pada aslinya memang harus sudah tatap muka. Sekarang sudah (tatap muka), tapi nggak penuh waktunya,” katanya Senin (3/1).

Aji menjelaskan, jika pada waktu normal biasanya melaksanakan sekolah luring itu dari pukul 07.00-14.00, namun saat ini pembelajaran masih dibatasi hanya sampai pukul 12.00. “Nggak usah pakai istirahat, tapi masuk semua,” ujarnya.
Terkait kapasitas yang masuk dikembalikan kepada kebijakan sekolah masing-masing dan tergantung situasi dan kondisi setiap sekolah, ada beberapa opsi yang bisa dilakukan. Ini agar tetap berjarak dalam kelas, sekolah bisa menggelar PTM dengan metode dua shift atau secara bergantian setiap harinya.

“Mau memasukkan dengan dua shift bisa, atau shift-nya lain hari juga bisa. Sekarang separo, besok separo yang separonya lagi ikut online juga bisa. Sekarang masih blanded ya, tapi semua sekolah sudah tatap muka,” ujarnya.
Agar ada jarak, sekolah bisa menerapkan kapasitas siswa yang masuk antara 50-75 persen. Demikian pula jika ruang kelas di sekolah memungkinkan menggelar 100 persen siswa yang masuk seluruhnya, dan dipastikan bisa ada jarak maka dipersilakan.

Sekolah juga harus memenuhi syarat salah satunya peserta didik minimal 70 persen sudah mendapatkan vaksinasi. Guru harus 100 persen mendapat vaksinasi, kecuali bagi yang belum bisa mendapatkan vaksinasi karena alasan tertentu.

“Kalau yang umur 6-11 tahun belum semua vaksin, boleh bisa jalan tapi tetap prokesnya dijaga. Kita harus sangat hati-hati dengan sebaran varian baru Omicron, kita pantau betul,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja Budi Santosa Asrori mengatakan, Pemkot Jogja menargetkan menggelar PTM secara penuh pada akhir Januari. Hal ini seiring dengan capaian vaksinasi Covid-19 bagi anak usia 6-11 tahun yang berusia anak sekolah. “Kami untuk menuju 100 persen tentu saja secara bertahap. Kita dua per tiga dulu secara bergantian,” katanya.

Meski sekolah di Kota Jogja telah memenuhi syarat menjalankan PTM 100 persen, tak mau gegabah dulu. Pelaksanaan PTM dengan kapasitas dua per tiga dilakukan selama dua minggu ke depan. Ini juga sebagai langkah simulasi terlebih dulu menuju penyelenggaraan secara penuh.

Praktis ketika ditingkatkan menjadi 100 persen kapasitas, maka dari segi jam pelajaran sudah dapat ditingkatkan maksimal enam jam pelajaran dari sebelumnya maksimal tiga jam pelajaran atau 180 menit. “Memang sekarang ini sebetulnya di aturan tidak ada opsi lagi untuk daring. Tapi karena ini baru uji coba menuju 100 persen,” tambahnya.

Kepala SDN Lempuyangwangi Esti Kartini mengatakan, metode dua per tiga pelaksanaan PTM yang dilakukan dua pekan ke depan yakni dengan membagi jadwal per jenjang tiap pekan. Pada pekan pertama Januari, siswa yang masuk kelas 1, 3, 5, dan 6, sementara pekan kedua untuk siswa kelas 2, 4, dan 6.
Setiap kelas diisi 100 persen siswa atau 28 orang per kelas. “Nah siswa yang di rumah tetap dikasih tugas sama guru kelas. Tapi tidak online atau google meet kayak biasanya dulu, tapi pas masuk dikumpulkan,” katanya.

Adapun siswa kelas 6 memang sengaja masuk setiap hari karena harus melakukan persiapan untuk keperluan ujian. Pembelajarannya juga dilakukan maksimal enam jam pelajaran hingga pukul 13.00. Sedangkan untuk kelas bawah maksimal hingga pukul 12.00. Serta siswa kelas 1 masih terbatas hingga pukul 10.30.

“Sepanjang saya lihat seluruh guru memantau siswa dengan ketat. Saat istirahat saja, siswa masih terpantau di kelas, jadi tidak ditinggalkan. Siswa membawa bekal sendiri dari rumah,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya