RADAR JOGJA – Tren jual beli pakaian bekas layak pakai yang dulu dikenal dengan istilah awul-awul kini tengah tren. Hadir dengan istilah kekinian thrifting, tengah menjadi tren fesyen. Perburuan produk-produk kerap menjadi perbincangan di media sosial.

Salah satu pemilik thrifting shop di kawasan Pasar Beringharjo adalah Akmal. Dia menuturkan thrifting menjadi pilihan, karena dari sisi kualitas dan keaslian produknya terjamin. Tak hanya itu, produk-produk thrifting shop memiliki koleksi dengan model yang eksklusif.

“Modelnya tidak ada yang sama, jadi misal beli satu modelnya tidak ada yang menyamai. Itulah keunggulan dari thrifting,” jelas Akmal ditemui di Pasar Beringharjo, Selasa (4/1).

Akmal menjual berbagai model pakaian dengan beragam merek.  Mulai dari model crewneck, hoodie, blouse katun, celana denim, hingga jaket denim. Untuk urusan harga dibanderol dari Rp. 35 ribu hingga yang paling mahal Rp. 1.2 juta.

Akmal menceritakan bisnis ini tak langsung mendatangkan untung besar. Pada masa pandemi dia hanya bisa mengumpulkan Rp. 250 ribu perhari. Hasil keuntungan dia gunakan untuk membeli stok barang serta memberi upah karyawannya.

Saat ini, penjualan diakui olehnya mulai meningkat. Akmal bisa menjual setidaknya 10 hingga 25 potong pakaian perhari. Untuk meluaskan pemasaran, Akmal mengaku juga menjual produknya secara online.

“Kalau online lewat instagram dan tiktok, terus dari mulut ke mulut mungkin ya,” kata Akmal.

Guna meningkatkan harga jual, pakaian yang dia jajakan telah melalui proses laundry. Ini juga sebagai upaya untuk membunuh kuman penyakit. Maklum saja komoditi penjualannya memang terhitung sebagai barang bekas pakai.

“Ini kami laundry saja, jadi orang pesan langsung pakai. Kalau yang tidak di laundry itu kan awul-awul. Tampilan juga beda, kaya distro,” ujar Akmal.

Dia menambahkan, bukan perkara mudah untuk memulai bisnis thrifting shop. Tak semua pakaian bisa dipukul rata dengan harga yang sama. Terlebih kebanyakan pebisnis thrifting shop pemula tergiur dengan harga modal yang murah.

Hanya saja bisnis ini bisa menjadi pundi-pundi ekonomi. Tentunya jika bisa memanajemen dengan baik. Mulai dari pemilihan barang dan promosi ke media sosial.

“Kebanyakan tergiur karena murah, padahal kalau beli satu bal setidaknya harganya sekitar Rp 7 juta-an. Kalau bisa manage dengan baik bisa jadi pundi ekonomi dan bisa menghidupi keluarga,” kata Akmal. (co1/dwi)

Jogja Raya