RADAR JOGJA – Tahun sudah berganti, tapi kasus kekerasan jalanan atau klithih masih terjadi. Bahkan hanya dalam hitungan jam setelah pergantian tahun, terjadi lagi kasus klithih di DIJ. Tepatnya terjadi di Jalan Hayam Wuruk, Bausasran, Kota Jogja, pada hari pertama 2022.

Korbannya HAD, warga Kampung Bausasran. Dia terkena sabetan senjata tajam pada Sabtu pagi (1/1) pukul 05.00. Akibatnya, pria 18 tahun itu mengalami robek di punggung selebar 10 sentimeter dan dijahit hingga tiga lapis.

“Ada tiga luka, di boyok (punggung bawah), pundak kiri, dan baret di tangan karena sempat menepis sabetan senjata tajam,” kata kakak korban Tenno Aryo Damar kepada Radar Jogja Minggu (2/1).

Tenno menjelaskan, dari kronologi yang disampaikan adiknya, antara rombongan korban dan pelaku tidak saling kenal. Rombongan HAD, delapan orang berboncengan empat motor, baru pulang camping di Pantai Parangtritis. Sampai di Jalan Gadjah Mada, di selatan Hotel Jambu Luwuk, tiba-tiba dari utara ada rombongan pelaku yang terdiri tiga motor. Salah satunya ada yang cenglu atau bonceng telu (bonceng bertiga).

Karena jalan agak belok, kedua rombongan bersenggolan. Hampir tabrakan. “Tidak sampai tabrakan, tapi rombongan pelaku langsung balik arah, misuh-misuh, teriak-teriak ‘Tak pateni kowe’, sambil bawa celurit,” ujarnya berdasarkan cerita adiknya.

Karena sudah dekat rumah, rombongan korban tetap melaju ke utara di Jalan Hayam Wuruk. Dua motor berhasil belok masuk gang kampung. Tapi dua motor lainnya, karena dikejar, panik hingga tertangkap di perempatan Lempuyangan.
HAD yang saat itu dibonceng juga terjatuh setelah dilempar botol minuman keras (miras). Di dekat RS Numani itu pelaku membacok siswa kelas 12 SMKN 3 Jogja ini. Kemudian rombongan pelaku melarikan diri ke arah selatan.

Tenno menambahkan, oleh teman-temannya HAD kemudian dibawa ke RS Bethesda Lempuyangwangi. Tapi karena penuh, akhirnya dirujuk ke RS Bethesda, dengan dibonceng motor cenglu. Saat melalui Jalan Bausasran, tiba-tiba bertemu lagi dengan rombongan pelaku. Mereka dikejar hingga sebelum Jembatan layang Lempuyangan.

Tapi rombongan pelaku tak jadi melanjutkan aksinya, karena salah satu pelaku kenal dengan teman HAD. “Yang bawa adik saya namanya Zaki, ternyata salah satu pelaku kenal, terus teriak, ‘Lho Ki’, tidak jadi nebas lagi, terus lari ke selatan,” jelasnya.

Siangnya Zaki mendapat WhatsApp dari temannya yang melihat kejadian di Lempuyangan itu. Dengan bekal suara pelaku, yang diketahui mengendarai motor Scoopy merah itulah keluarga dan teman-teman korban mencari pelaku. Ada beberapa yang dicurigai. Hingga mengarah ke salah satu orang yang dikenal Zaki yang tinggal di Wiyoro, Bantul.

Ketika didatangi dia mengakui. Tapi hanya menjadi jongki atau yang mengendarai motor. Bukan fighter yang membacok. Dari informasinya, rombongan berasal dari salah satu SMA swasta di Depok, Sleman. “Dia ngaku sebelumnya juga menenggak miras,” kata ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Danurejan itu.

Minggu pagi (2/1) ayah sang jongki juga sudah mendatangi keluarga HAD. Intinya ingin meminta maaf dan berharap anaknya tidak diproses hukum. Tapi Tenno menyebut, dari keluarga tetap menginginkan proses hukum berlanjut. Termasuk menemukan para pelaku lainnya. “Ayahnya sudah datang minta maaf dan siap tanggung jawab, tapi tanggung jawab apa gak jelas,” ujarnya.

Tenno juga berharap kepolisian bisa segera mengungkap pelaku klithih yang melukai adiknya. Dia mengaku, informasi terkait pelaku penyerangan yang kenal dengan salah satu teman adiknya sudah disampaikan ke kepolisian. Tapi, ternyata keluarga dan teman-teman korban yang lebih cepat menemukan pelakunya. “Semua informasi sudah kami sampaikan, semoga segera ketemu. Takutnya pelaku sudah melarikan diri,” paparnya.

Ketika dikonfirmasi wartawan, Kapolresta Jogja Kombes Pol Purwadi Wahyu Anggoro justru mengklaim kejadian di Danurejan itu bukan klithih. Melainkan perkelahian biasa. “Kategorinya bukan klithih. Itu perkelahian biasa, hanya kejadiannya di jalan. Podo-podo rombongan terus serempetan, pisuh-pisuhan (saling ejek). Korban dilempar batu dua kali,” ujarnya kemarin (1/1).

Pihak kepolisian kini masih mengejar para pelaku yang terlibat penganiayaan tersebut. Olah tempat kejadian perkara (TKP) sudah dilakukan pihak kepolisian, dan kini kasusnya sedang dikembangkan. “Sudah (olah TKP). Kami baru lihat rekaman CCTV,” tambahnya. (wia/pra/laz)

Jogja Raya