RADAR JOGJA – Gunung Merapi mengalami 22 kali guguran lava maupun lava pijar. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida.
Hanik mengungkapkan terjadi 15 kali guguran lava pijar pada Senin (20/12). Guguran itu juga dominan di barat daya. Sementara Selasa (21/12) terjadi tujuh kali guguran lava. “Dari data Senin hingga kemarin ada total 22 guguran,” ujar Hanik.

Selain itu dia menjelaskan kegempaan juga terjadi 172 kali. Rinciannya gempa guguran 162 kali, gempa hembusan tiga kali, gempa fase banyak lima kali, gempa vulkanik dangkal sekali, dan gempa tektonik jauh sekali.

Hanik menyatakan terjadi 56 kali kegempaan pada periode tersebut. Gempa guguran terjadi 52 kali dan gempa hembusan terjadi sekali. Ia menambahkan status Gunung Merapi masih berstatus siaga. Ia mengatakan bahaya ancaman material akibat erupsi gunung tersebut masih mengancam di sektor barat daya ataupun tenggara.

BPPTKG merekomendasikan agar masyarakat tidak berkegiatan di dekat daerah potensi bahaya. Masyarakat juga diimbau mengantisipasi gangguran akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi. ”Waspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi,” imbaunya.

Selain itu, kegiatan penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III juga tetap direkomendasikan untuk dihentikan sementara waktu.

Ditambah dengan imbauan kepada pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak dalam kondisi saat ini. (kur/bah)

Jogja Raya