RADAR JOGJA – Nani Aprilliani Nurjaman alias Tika, terdakwa kasus sate sianida, divonis 16 tahun penjara. Perempuan asal Majalengka, Jawa Barat, itu terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan atas meninggalnya Naba Faiz Prasetya, sesuai Pasal 340 KUHP.

Putusan lebih ringan dua tahun dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang mengajukan tuntutan 18 tahun penjara. Kuasa hukum Nani menyatakan pikir-pikir untuk bersiap ajukan banding. Sementara orang tua Naba mengaku tidak puas meski menghormati keputusan hakim.

“Majelis hakim menyatakan terdakwa Nani Aprilliani Nurjaman alias Tika terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Sebagaimana dakwaan primer JPU,” tegas Ketua Majelis Hakim Aminnudin dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Senin (13/12).

Selanjutnya Aminnudin menjatuhkan pidana penjara selama 16 tahun kepada Nani. Kurungan dikurangi masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Nani. Untuk itu, perempuan 25 tahun ini tetap harus ditahan di rutan. “Kemudian membebankan biaya perkara sejumlah Rp 2.500 kepada terdakwa,” putusnya.

Berdasar keputusan itu pula, pledoi kuasa hukum Nani tidak lagi dipertimbangkan. Di mana kuasa hukum Nani sempat membela kliennya tidak melanggar Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Melainkan, Nani melanggar Pasal 351 KUHP. “Pledoi kuasa hukum harus dikesampingkan,” tegas Amin.

Pidana pun dijatuhkan dengan pertimbangan. Hal yang memberatkan karena perbuatan Nani mengakibatkan meninggalnya Naba. Nani juga terbukti merencanakan tindakan pembunuhan. Beberapa tindakan terencana itu adalah menggunakan pakaian yang berbeda dengan keseharian, membeli racun sebanyak dua kali secara online, menukar sepeda motor, dan menggunakan nama anonim saat mengirim takjil berisi sate sianida. “(Nani juga, Red) terlebih dahulu browsing jenis racun yang mematikan,” bebernya.

Sementara keadaan yang meringankan Nani, dia bersikap sopan. Sulung tiga bersaudara ini telah mengaku pula menyesal atas perbuatannya. Selain itu, Nani belum pernah terjerat hukum. “Terdakwa relatif berusia muda, dan diharapkan memperbaiki kelakuannya,” pesan hakim.

Selain menetapkan hukuman, Amin juga menjabar ketetapan barang sitaan. Kendaraan milik Nani dan Agus Subakti Wardoyo dikembalikan. Namun beberapa barang akan dimusnahkan. Barang itu terdiri atas satu buah plastik kresek berisi kardus dengan enam tusuk sate dan lontong yang dicampur saus kacang. Selain itu, satu kardus hijau kombinasi dengan isi agar-agar, risoles, pastel, mata kerbau, dan kue pisang. “Serta barang bukti Samsung A71 warna hitam dimusnahkan,” sebutnya.

Menanggapi itu, Nani sempat meminta agar HP miliknya dikembalikan. Namun, HP itu merupakan sarana yang digunakan Nani untuk memesan sianida secara online. Sesuai Pasal 39 ayat (1) KUHAP, HP tersesebut harus dimusnahkan. “Saya ingin meminta HP A71 dikembalikan karena ada data utang-piutang,” sesal Nani.

Usai pembacaan vonis, R Anwar Ary Widodo selaku Kuasa Hukum Nani Aprilliani Nurjaman menyebut akan pikir-pikir. Sebab Nani melalui dirinya memiliki hak untuk menerima dan menolak atau menyatakan banding. Opsi ketiga adalah pikir-pikir selama tujuh hari terhitung hari ini. “Kami pikir-pikir, tujuh hari ke depan. Setelah dikupas bersama berdasar keputusan tersebut, kami akan mengajukan banding. Tentunya memberatkan Pasal 340 KUHP,” ketusnya.

Sidang turut dihadiri oleh Bandiman dan Titik Rini, orang tua korban Naba Faiz. Titik tak banyak bicara. Kendati perempuan 33tahun itu tampak lebih tegar dengan tidak menangis. Usai sidang, Bandiman mengaku sesungguhnya belum puas atas vonis yang dijatuhkan majelis hakim. “Sebagai wali korban, ya nggak puas. Karena (perbuatan Nani, Red) sudah merenggut kebahagiaan dan harapan saya,” tegasnya.

Kendati begitu, ayah dua orang putra ini mengaku tetap menghargai keputusan hakim. “Harapan kami, ya maunya seberat-beratnya. Tapi saya menerima keputusan hakim dan berusaha ikhlas,” tandasnya. (fat/laz)

Jogja Raya