RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menyoroti Gunung Merapi yang hingga kini masih berstatus siaga. Gunung api di perbatasan DIJ dan Jawa Tengah itu sudah ditetapkan dalam status siaga sejak 5 November 2020. HB X merasa, ini merupakan waktu terlama Merapi dalam status itu.

“Masih aktif, dalam arti siaga. Jadi mungkin ini siaga yang paling panjang, ya berarti kan memang mengalir terus,” kata HB X saat ditemui wartawan di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kepatihan, Senin (12/12).

Karena Merapi masih terus menunjukkan aktivitasnya, gubernur meminta jalur evakuasi warga dipersiapkan secara baik. Persiapan lain soal penanganan kebencanaan juga perlu dilakukan. “Dari awal kan memang sudah siaga. Mestinya jalan untuk evakuasi ya harus lebih baik,” sebutnya.

Sementara itu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta mencatat, aktivitas guguran Merapi lebih dari 200 kali selama 10 hari. Dominan di sektor barat daya, luncuran material berkisar 2 kilometer.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menjelaskan, terjadi empat kali luncuran awan panas dalam periode 3-9 Desember 2021. Material awan panas meluncur di Sungai Bebeng sejauh 2,2 km. “Guguran lava dalam periode itu teramati 190 kali ke arah barat daya, dominan ke Sungai Bebeng dengan jarak luncur maksimal 2 km,” ujar Hanik

Data dari BPPTKG menunjukkan, guguran lava pijar terjadi 16 kali sejauh 1,8 kilometer pada 10 Desember 2021. Kemudian terjadi 14 kali luncuran lava pijar sejauh 2 kilometer sehari berselang. Adapun selama 12 Desember 2021 terjadi guguran awan panas sekali sejauh 2 km dan lava pijar 21 kali sejauh 1,8 kilometer.

Lokasi guguran dominan di barat daya. Total terjadi guguran awan panas 5 kali dan guguran lava 242 kali selama 10 hari terakhir. “Hasil analisis morfologi dari foto udara tanggal 8 Desember 2021, stasiun kamera Tunggularum, Ngepos, dan Babadan 2, baik kubah lava barat daya dan kubah tengah teramati masih mengalami pertumbuhan. Volume kubah lava barat daya sebesar 1.629.000 meter kubik dan kubah tengah sebesar 3.007.000 meter kubik,” jelasnya.

Dia menambahkan, ancaman lahar masih membahayakan berbagai aktivitas masyarakat di kawasan rawan bencana di lereng Merapi. Pada pekan lalu, kata dia, terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi dengan intensitas curah hujan sebesar 53 milimeter per jam selama 80 menit. Kondisi itu dilaporkan terjadi penambahan aliran dan lahar pada Sungai Gendol, Boyong, dan Pabelan.

Kota Siaga Hadapi Banjir Lahar Dingin

Sementera itu, Kota Jogja telah memiliki kesiapan dan langkah antisipasi. Terutama jika sewaktu-waktu menghadapi banjir lahar dingin pada musim penghujan, untuk mencegah terjadinya korban jiwa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan, dari tiga sungai di Kota Jogja, Code merupakan yang paling rawan dilalui arus lahar dingin dari hulu. “Karena lahar dingin lewatnya Boyong dan mengalirnya ke Code. Kalau Winongo atau Gajahwong, itu hanya cabangnya saja,” katanya.

Sejauh ini BPBD Jogja telah menyiapkan skenario penanganan di hilir manakala ada tanda peringatan dini ketika debit air meningkat di atas permukaan sungai mencapai 1,5 meter. Dan diprediksi, kurang lebih dalam waktu 30 menit arus dari hulu akan sampai ke kota. Dengan catatan, dalam keadaan curah hujan yang tinggi. Sehingga ini perlu pencegahan agar tidak terjadi korban. “Kami siapkan posko di Ngentak (Sleman) untuk sampaikan (peringatan dini) lewat early warning system,” ujarnya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja Umi Akhsanti mengatakan, untuk menanggulangi bencana di bantaran sungai, talut menjadi garda terdepan sebagai antisipasi awal mencegah banjir lahar dingin. “Kalau di bantaran, tanggul atau talut untuk mengantisipasi banjir lahar dingin. Itu yang paling banyak di sepanjang bantaran Code. Karena di bantaran kita tidak memakai saluran air hujan,” katanya.

Sejauh ini berdasar pengalaman beberapa tahun terakhir, pihaknya mengantisipasi dengan menata kawasan pemukiman penduduk. Langkah itu diklaim terbukti cukup efektif agar rumah-rumah warga di bantaran tidak terdampak lahar dingin yang terus mengancam. (kur/wia/laz)

Jogja Raya