RADAR JOGJA – Hijau nan sejuk menghujani pemandangan Padukuhan Grogol, Margodadi, Seyegan. Hamparan persawahan ditambah gemericik aliran mata air makin memberikan ketenangan. Suasana yang jauh dari hiruk pikuk kebisingan ramainya jalanan, menjadi buruan wisatawan merayakan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Desa Wisata Grogol.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja.

Sekretaris Desa Wisata Grogol Esthy Handayani mengatakan, paket wisata mengedepankan kesehatan menjadi hal utama menggeliatkan pariwisata. Menjaga protokol kesehatan (prokes) menjadi nilai kebiasaan yang tidak bisa ditawar. Meskipun wisata ini mengandalkan alam sebagai kunjungan.

“Kita ingin menjaga wisatawan lebih aman. Maka dari itu, prokes tetap kami utamakan,” kata Esthy kepada Radar Jogja (6/12). Misalnya saja dalam hal kunjungan. Pengelola wisata akan mendata dari mana pengunjung berasal. Dan memastikan wilayah itu aman dari persebaran Covid-19.

Wajib vaksin minimal satu kali juga diberlakukan. Lalu membatasi kunjungan kelompok berskala besar. Bila sebelum pandemi setiap perayaan Nataru bisa menerima 500 pengunjung, kini paling banter 200 pengunjung di puncak malam tahun baru.

Atau dua kelompok, masing-masing kelompok dibatasi maksimal 100 orang. Sementara untuk kunjungan harian menjelang Nataru, pengelola menghidupkan kembali wisata family trip (famtrip). Seperti workshop pembuatan genting, meracik jamu, tatah sungging, dan belajar gamelan. “Paket ini sebelumnya pernah surut pada 2017. Selama pandemi, kami hidupkan lagi,” kata Esthy.

Untuk menjaring pengunjung, pengelola menerapkan sistem reservasi sebelum berkunjung Desa Wisata Grogol yang berlokasi di Sleman barat ini. Reservasi kunjungan paket ringan dapat dilakukan empat hari sebelum pelaksanaan. Tetapi untuk kunjungan kelompok berskala besar, reservasi harus dilakukan jauh-jauh hari.

“Untuk keamanan dan kenyamanan bersama, setiap kegiatan kunjungan makrab atau acara tertentu atas seizin satuan gugus tugas setempat,” katanya.
Kecuali untuk tamu yang hendak menginap di homestay milik warga. Penginapan di homestay belum diperkenankan. “Kami masih worry (khawatir, Red). Apalagi ada isu muncul varian baru Omicorn, kami belum berani buka homestay,” tambahnya.

Meski belum ada bukti nyata ditemukan di DIJ, menurut Esthy, patut diwaspadai. Sebab, homestay menggabung di rumah warga. Segala aktivitas melibatkan pemilik rumah. Mandi di toilet yang sama. Makan satu meja dan lain sebagainya, sehingga hal ini pengelola belum siap.

Demikian juga outbond dan pertunjukan kesenian. Sejak awal pandemi hingga sekarang, aktivitas outbond dan pertunjukan kebudayaan belum dibuka. Karena pandemi belum benar-benar berlalu.

Meski dalam kondisi mencoba untuk bangkit, warga dan pengelola setempat gumregah. Bersemangat membuka wisata dan memberikan diskon di setiap kunjungan dan kegiatan. Diskon diberikan berbeda, tergantung jenis paketan wiasatanya. Pemberian diskon ini akan dilakukan hingga puncak akhir tahun ini.

Diskon bisa berupa pengurangan biaya pemesanan bersifat perorangan. Ada juga diskon dalam bentuk kelompok. Seperti penanggalan biaya sewa gubuk pendapa, gratis sewa sound system, makan, dan lain sebagainya. “Itu bagian inovasi pelayanan kami,” bebernya.

Adapun paket murah yang telah dipersiapkan, antara lain, paket alam tracking jelajah desa Rp 80 ribu per orang. Kemudian famtrip per orang Rp 85 ribu-Rp 100 ribu. Ada juga paket family 5 orang dibanderol Rp 350 ribu sampai Rp 450 ribu. Semua sudah lengkap dengan makan.

Dia berharap Desa Wisata Grogol ini semakin eksis dan terpercaya. Eksis kunjungannya, terpercaya layanan, keamanan, dan kenyamanannya. “Kita utamakan segi kualitas dibandingkan kuantitasnya. Bagaimana bisa bangkit dari pandemi,” tandasnya. (laz)

Jogja Raya