RADAR JOGJA – Pedagang kaki lima (PKL) kuliner Malioboro bersatu padu menyerukan Malioboro Indah tanpa Memindah, melalui peluncuran sebuah pin. Ini sebagai salah satu aksi keberatannya mereka direlokasi ke tempat yang baru untuk berjualan.

Ketua Koperasi Paguyuban Pedagang Kaki Lima Yogyakarta (PPKLY) Wawan Suhendra menganggap keberadaan PKL sebagai ruhnya Malioboro. PKL bak bagian dari kosmetik untuk mempercantik wajah Kota Jogja.

“Malioboro yang sudah sedemikian unik menarik, kenapa harus diubah,” kata Wawan usia menggalang dana bagi korban erupsi Gunung Semeru di Lumajang Jawa Timur, Jumat (10/12).

Wawan membenarkan para PKL tidak ada penolakan untuk ditata. Terlebih membuat Malioboro menjadi lebih indah dan menarik. Namun sebagian besar PKL merasa keberatan jika solusinya adalah merelokasi mereka ke dua tempat yang sedang disiapkan, yaitu eks Gedung Bioskop Indra dan eks Kantor Dinas Pariwisata DIJ. “Kami keberatan direlokasi, apalagi tempat untuk relokasi belum representatif. Harusnya semua juga didukung,” ujarnya.

Mereka merasa belum yakin apalagi dijamin pemerintah setelah relokasi, maka ekonominya akan menjadi lebih baik. Masalah ketenagakerjaan, jika direlokasi dengan tempat yang tidak sesuai, praktis tenaga kerja juga akan berkurang. Belum lagi para PKL yang hampir dua ribu orang, belum ditambah turun temurun anggotan keluarganya. Mereka mencari sumber kehidupan di Malioboro.

“Di sana ada istri, suami, bahkam cucunya masih bergantung. Sudah puluhan ribu yang terdampak. Tentu ini akan terdampak pada keterpurukan, banyak yang sudah shock, bahkan dua meninggal setelah mendengar kabar ini,” tandasnya.

Dipertanyakan, apakah pemerintah sanggup memberikan jaminan kepastian untuk kehidupan mereka. Apakah jaminan ini akuntabel, apalagi ini hanya tempat sementara yang artinya bisa saja dipindah lagi. “Apa yang nanti akan kita alami,” sambungnya.

Maka diharapkan kebijakan itu perlu dikaji ulang dan dipertimbangkan matang. Tentu untuk kebaikan bersama dan tidak ada salah satu pihak yang dirugikan. Sekalipun memang penataan Malioboro merupakan bagian proyeksi sumbu filosofi, sebagai sebuah kawasan heritage yang diakui UNESCO. “Tidak ada klausul yang harus menghilangkan PKL. Kaki lima bukan menjadi kendala,” katanya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Angkringan Padma Malioboro Yati Dimanto menambahkan, pemasangan pin Malioboro Indah tanpa Memindah disematkan kepada seluruh anggota PKL kuliner Malioboro. Ada empat paguyuban selain yang dinaunginya, juga PPKLY, Handayani, dan Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro (PPLM). “Yang jelas kalau sesama PKL kita tidak menolak, tapi keberatan untuk direlokasi,” katanya.

Masukan dan usul selama ini tetap Malioboro dibuat indah tanpa memindah. Artinya mempercantik tempat jualan atau lapak-lapak para PKL yang selama ini sebagian besar telah berjualan puluhan tahun di sana.

“Nah, lapak kita ini yang dibuat indah. Misalnya didandani biar cantik dan ganteng. Untuk tenda diperbaharui dengan diseragamkan, gerobak juga dan lain-lain. Jadi ibarat taman, itu kita dijadikan bunganya biar menarik. Sehingga tetap di lokasi sekarang,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya