RADAR JOGJA – Pedagang kaki lima (PKL) Malioboro konsisten menolak relokasi di kawasan tersebut. Ditandai dengan peluncuran pin bertuliskan Malioboro Indah Tanpa Memindah. Aksi ini sebagai simbol keberatan atas kebijakan Pemkot Jogja dan Pemprov DIJ tersebut.

Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Yogyakarta (APKLY) Wawan Suhendra menilai kebijakan tersebut tidak memihak PKL. Menganggap pemindahan ke lahan bekas Dinas Pariwisata DIJ dan eks lahan Bioskop Indra tidak strategis. Ini karena lokasinya yang tidak menghadap langsung ke pengunjung Malioboro.

“Kami meluncurkan PIN Malioboro Indah Tanpa Memindah. Penanda kesiapan kami di tata sedemikian rupa, tanpa dipindah. Kalau relokasi kami keberatan,” jelasnya ditemui di kawasan Malioboro, Jumat (10/12).

Penataan, lanjutnya, tidak harus dengan relokasi. Terlebih dua lokasi pengganti tidaklah representatif. Wawan menuturkan para PKL takut apabila roda perekonomian tidak berjalan.

Wawan memastikan para PKL bersedia ditata. Bahkan tidak menolak adanya kebijakan mempercantik kawasan Malioboro. Dengan catatan tidak memindahkan lokasi berdagang para PKL ke lokasi yang baru.

“Kami meyakini apapun yang diinginkan Pemerintah untuk Malioboro dan Kota Jogja dapat diraih dan dicapai tanpa harus memindah. Kami sepakat ditata tapi tidak dipindah,” katanya.

Dia juga memaparkan acuan Sumbu Filosofis. Diketahui kebijakan penataan PKL merupakan imbas dari status warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Pemprov DIJ menyebutkan kawasan dari pedestrian Malioboro bersih dari PKL.

Wawan menyebut keputusan ini mengada-ada. Menurutnya tak ada klausul khusus pemindahan PKL dalam keputusan UNESCO. Sehingga penerapan sumbu filosofis tak sejalan dengan relokasi para PKL Malioboro.

“Acuannya itu, menata Malioboro sesuai ketentuan UNESCO. Padahal tidak ada klausulnya memindah PKL yang sudah puluhan tahun disini. Memperindah kan tidak harus memindah kami,” ujarnya.

Adanya ide mengubah Malioboro layaknya Orchard Road tidaklah tepat. Malioboro menurutnya memiliki ciri khas yang kuat. Sehingga wacana menata layaknya pusat perbelanjaan di Singapura hanya kebijakan yang sia-sia.

“Malioboro itu sudah ada ciri khas sendiri, kenapa malah ingin dimiripkan seperti Orchard Road. Kalau mau seperti itu kan lebih baik cari lokasi lain selain Malioboro. Malioboro itu imagenya sudah kuat,” katanya. (dwi)

Jogja Raya