RADAR JOGJA – Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) akan membentuk tim pengawas QR Code Peduli Lindungi. Langkah ini guna memastikan penerapan aplikasi tersebut optimal. Baik di tempat wisata, hotel, restoran dan ruang publik lainnya.

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Rahardjo mengakui penerapan QR Code Peduli Lindungi semakin longgar. Para pengunjung maupun wisatawan tidak memindai aplikasi tersebut. Temuan ini berdasarkan pantauan di sejumlah objek wisata dan ruang publik di Jogjakarta.

“Benar, Peduli Lindungi disinyalir mulai menurun penerapannya. Ini akan kami tingkatkan kembali, harus lakukan pengetatan dan peningkatan pengetatan scan Peduli Lindungi,” jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Kamis (9/12).

Teknis pengawasan, lanjutnya, bisa menggunakan aplikasi Visiting Jogja. Ini karena aplikasi milik Dinas Pariwisata DIJ ini telah terintegrasi ke aplikasi Peduli Lindungi. Adapun tim pengawas akan bekerjasama dengan unsur pemerintahan di tingkat Kabupaten dan Kota.

Peran pengawasan, sejatinya bisa dilakoni secara internal. Dalam artian meningkatkan pengawasan oleh karyawan yang bertugas. Untuk mengingatkan pengunjung atau wisatawan memindai QR Code Peduli Lindungi.

“Ada yang melanggar maka peranan petugas penting untuk mengingatkan. Kalau di hotel ya satpam atau petugas yang didepan (pintu masuk) mengingatkan agar pengunjung gunakan QR Code,” katanya.

Singgih mengakui tak ada sanksi terhadap pelanggaran prokes. Termasuk penerapan pindai QR Code Peduli Lindungi. Hanya saja ada ketentuan penutupan tempat wisata atau ruang publik apabila muncul kasus atau klaster Covid-19.

Selain pengelola, Singgih juga meminta wisatawan memahami kebijakan yang berlaku. Bersedia dengan sadar menerapkan prokes. Ini karena pengendalian penularan Covid-19 menjadi tanggungjawab bersama.

“Komitmen kalau ditemukan ada klaster ditempat wisata akan lakukan penutupan sementara. Semoga kerjasama dengan wisatawan baik agar membiasakan diri dengan prokes lalu patuh persyaratan perjalanan prinsip pendisiplinan termasuk,” ujarnya.

Penerapan tetap mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Selain itu sistem pembelian tiket juga bisa secara reservasi. Sehingga pembelian tiket dengan mengandalkan sistem online.

Untuk saat ini 250 lebih destinasi wisata, hotel, restoran dan cafe telah memiliki QR Code Peduli Lindungi. Keberadaan aplikasi ini tak hanya untuk memantau jumlah kunjungan. Tapi juga status kesehatan atau bebas Covid-19 setiap pengunjung.

“Sehingga penting untuk pendisiplinan dengan scanning (QR Code Peduli Lindungi). Dari sana nanti muncul statusnya hijau, kuning, merah atau hitam. Kalau merah swab antigen dulu,  kalau hitam tidak boleh masuk,” katanya. (Dwi)

Jogja Raya