RADAR JOGJA – Dibatalkannya penerapan PPKM Level 3 selama momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) membuat Pemkot Jogja mengatur strategi baru untuk melakukan pengetatan pembatasan mobilitas masyarakat. Penerapan skema one gate system dikuatkan untuk menyaring kedatangan wisatawan dari luar daerah, sehingga kondusivitas Jogja tetap terjaga.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, dengan penghapusan PPKM Level 3 tidak ingin lantas membuat lonjakan kasus Covid-19, di Kota Jogja khususnya. Berbagai pembatasan pun tetap dilakukan sesuai yang sudah dirancang dalam rangka perayaan Nataru agar tidak terjadi kerumunan yang lebih besar.

Tetapi, aturan resmi dari pusat secara detail belum diterimanya. Apakah nantinya pembatasan disesuaikan berdasar level 2 atau masih ada perubahan leveling lagi. “Saya kira ini berita menggembirakan, masyarakat diberi keleluasaan tapi tetap harus terkendali. Maka kita tetap antisipasi dengan memperketat pelaksanaan prokes,” kata HP kepada wartawan di Kompleks Balai Kota Timoho, Selasa (7/12).

HP menjelaskan, terutama penerapan skema one gate system yang masih dijalankan akan menjadi langkah awal pemkot dalam menyaring wisatawan yang datang dari luar daerah. Kemudian pemeriksaan acak dokumen perjalanan di beberapa titik masuk Kota Jogja, nanti untuk memastikan penumpang angkutan umum bus memenuhi syarat sehat masuk Jogja.

Kerja sama dengan hotel dan restoran juga akan dikuatkan, karena dimungkinkan akan terjadi orang datang ke Jogja dengan kendaraan pribadi. “Tetap saja kita akan menjaga agar persyaratan perjalanan terpenuhi. Kita tidak berharap ada sesuatu (kasus Covid-19, Red) menjadi tumbuh lagi,” ujarnya.

Kendati begitu, sejatinya Jogja diklaim ketua harian Satgas Penanganan Covid-19 ini sudah mencapai herd immunity. Hal ini dilihat berdasar capaian vaksinasi sudah lebih dari 100 persen, bahkan dosis dua sudah mencapai 85 persen lebih.

Demikian pula dari kasus hasil skrining di sekolah, ditemukan seluruh siswa yang terkonfirmasi positif korona tanpa bergejala, setelah pelacakan pun tidak ada sebaran penularan. Sehingga pelaksanaan Nataru terpenting adalah mengantisipasi wisatawan yang datang dalam kondisi sehat.

Pemkot juga bakal menerapkan sistem buka tutup di pusat Malioboro agar jumlah pelancong bisa dikendalikan. Sebab, sistem ganjil genap tidak bisa diterapkan di pusat ekonomi itu, karena Malioboro bukan masalah destinasi wisata saja, melainkan ada masyarakat sekitar yang tinggal.

Tetapi langkah ini masih akan dibahas bersama jajaran Satgas Penanganan Covid-19 Jogja, baik Polresta, Kodim, dan instansi lainnya yang terlibat. Termasuk juga opsi akan memagari kembali kawasan Titik Nol Kilometer seperti saat Tahun Baru 2021 lalu.

“Ini bagian yang akan kita bicarakan detail, kalau sudah ada surat Inmendagri yang revisinya. Akan kita tentukan pembatasan-pembatasan di beberapa titik nanti. Tugas kita selama Nataru adalah memecah konsentrasi orang agar tidak berkumpul di satu tempat. Nanti kami siapkan strateginya,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja Agus Arif Nugroho mengaku akan melakukan langkah-langkah persuasif untuk menegur angkutan umum bus pariwisata yang masuk Jogja tanpa melewati satu pintu Terminal Giwangan. Seluruh penumpang harus melalui skrining terkait syarat-syarat kesehatannya. “Bus wisata yang mau masuk kota, untuk kepentingan apa pun silakan masuk Giwangan dulu, untuk kita skrining,” katanya.

Sejauh ini Dishub masih mendapati beberapa bus pariwisata yang masuk Jogja tanda berstiker dari Terminal Giwangan. Mereka langsung menuju ke tempat oleh-oleh atau hotel. Tentu hal ini menjadi kekhawatirannya. Jangan sampai wisatawan yang tidak terskrining itu beraktivitas di kota.

Oleh karena itu, Dishub akan mendatangi di lapangan. Kalau ditemukan bus tanpa berstiker, diminta agar ke Terminal Giwangan dulu. Di samping juga pihaknya dapat memantau perilaku bus yang melanggar itu lewat CCTV yang terpasang di 36 simpang.

“Jadi meski tidak ada petugas, kami bisa merekam kendaraan yang coba-coba, kita note mereka lalu hubungi by phone kepada PO-nya. Kami minta kerja sama semua pihak. Kami tidak melarang aktivitas apa pun, tapi ini semua demi pengendalian Covid-19,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya