RADAR JOGJA – Ketua Paguyuban Kuliner Malioboro Yanti Dimanto menuturkan mayoritas pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Malioboro menolak relokasi. Seluruhnya merasa keberatan dengan kebijakan Pemkot Jogja dan Pemprov DIJ tersebut. Penyebabnya adalah belum pastinya potensi ekonomi di tempat yang baru.

Pemilik lapak PKL di dekat Pintu Barat Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ ini menyebutkan kondisi perekonomian para pedagang masih terpuruk. Terlebih sudah tahun terdampak pandemi Covid-19. Alhasil pemasukan harian sangat minim, disatu sisi hutang menumpuk.

“Kami inginnya Malioboro dibuat indah tanpa memindah. Kami tidak mau direlokasi tapi siap ditata di tempat jualan saat ini. Pandemi membuat kami 2 tahun terutama PKL tidak bisa berjualan seperti biasa. Ini sudah mulai bangkit kok malah direlokasi,” jelasnya ditemui di lapak miliknya, Jumat (3/12).

Yanti menjawab tentang dua lokasi relokasi. Walau masih di kawasan Malioboro tetap tak memiliki potensi ekonomi. Nilai identik dari Malioboro, lanjutnya, juga akan hilang. Berbeda dengan lokasi terkini yang lebih strategis.

Dketahui bahwa lokasi relokasi PKL Malioboro berada di lahan bekas Kantor Dinas Pariwisata DIJ dan bekas Bioskop Indra. Kedua titik ini berada di ujung utara dan ujung selatan Malioboro. Lapak berada di bagian dalam komplek lahan.

“Untuk yang souvenir itu masuk ke bekas Dinas Pariwisata tapi itu juga sementara. Kalau yang kuliner masuknya ke eks Bioskop Indra. Sangat keberatan soalnya itu kan dimasukan, kayak kantong,” katanya.

Untuk kuliner, pemerintah memindahkan PKL yang berlapak di depan Grand Inna Malioboro Hotel hingga simpangempat Batik Batik Terang Bulan. Sementara untuk pedagang souvenir, seluruhnya terelokasi. Tepatnya yang berlapak di pedestrian sisi barat dari ujung utara hingga depan Raminten Malioboro.

Yanti memastikan diskusi baru berjalan sekali, tepatnya Jumat pekan lalu (26/11). Dalam pertemuan tersebut, langsung pemberitahuan tentang relokasi. Seluruh pedagang wajib pindah per akhir Desember 2021 hingga awal Januari 2022.

“Jadi ya belum pernah ada diskusi, baru Jumat lalu (26/11) tapi langsung tembak relokasi, awal Januari 2022 pindah disana (lokasi relokasi). Terus terang pedagang syok,” ujarnya.

Yanti juga mengaku pembahasan tentang sumbu filosofi tidaklah tuntas. Diketahui bahwa relokasi PKL terkait pengajuan Warisan Budaya ke UNESCO. Seluruh titik khususnya di kawasan Maliobioro dikembalikan ke esensi Sumbu Filosofis.

“Sumbu filosofi tidak ada waktu sosialisasi. Hanya bilang bahwa anda jualan di tempat garis filosofis. Kami ini cari makan kan tidak ganggu, pejalan kaki juga masih eksis,” katanya.

Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji memastikan penataan kawasan Malioboro tetap jalan terus. Dia juga menegaskan tidak ada penggusuran kepada PKL Malioboro. Semuanya ditempatkan di lokasi yang tetap berada di kawasan Malioboro.

Penataan, juga menyasar kawasan jalan sirip di sekitar Malioboro. Nanti kendaraan tidak dapat masuk ke kawasan Malioboro. Seiring dengan penataan, Malioboro akan bertransformasi menjadi kawasan semi pedestrian.

“Tidak ada yang digusur lho ya, hanya ditata ditempatkan di dua titik relokasi. Lokasinya juga masih di kawasan Malioboro. Penataan ini untuk mewujudkan Sumbu Filosofis sebagai Warisan Budaya UNESCO,” ujarnya. (dwi)

Jogja Raya