RADAR JOGJA – Jajaran Polres Bantul kembali menahan anak-anak pelaku kekerasan jalanan atau klitih. Kali ini sebanyak 22 anak dan satu pria dewasa ditangkap. Mereka dijerat beragam pasal, mulai kepemilikan senjata tajam (sajam), pengeroyokan, hingga perusakan.

Kapolres Bantul AKBP Ihsan menyebut, pihaknya berupaya meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Untuk itu, Polres Bantul meningkatkan patroli rutin. “Dalam rangka menjaga Bantul tetap kondusif dari kejahatan jalanan,” ujarnya dalam konferensi pers di halaman Polres Bantul, Senin (29/11).

Dalam patroli selama sepekan, terciduk 23 pelaku klitih. Mereka dibekuk berikut barang bukti puluhan sajam berupa golok, celurit, pedang, ikat pinggang gir, dan ikat pinggang paku. “Ini meresahkan masyarakat. Sebagian besar dari mereka adalah pelajar. Bukan hanya dari Bantul, tapi juga Sleman dan Kota Jogja,” tambahnya.

Lokasi penangkapan ke-23 pelaku berbeda-beda, tersebar di enam tempat kejadian perkara (TKP). Meliputi Jalan Bantul, Janti Timur, Patangpuluhan, dan Salakan, masing-masing satu kasus. Sementara di Jalan Samas ditemukan dua kasus. “Semua diamankan dengan membawa sajam. Mereka juga mengonsumsi obat dan miras,” ucapnya.

Lebih rinci, sebanyak tujuh orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Lantaran berusia lebih dari 17 tahun. Sisanya, sebanyak 16 anak dalam proses hukum. “Kami akan tegas terhadap pelaku kekerasan jalanan. Ketegasan kami tunjukkan dengan mereka (pelaku, Red) memakai baju tahanan,” lontarnya.

Selanjutnya diungkap, salah satu anak pelaku klitih sudah tiga kali tertangkap. Dua kali telah mendapat asimilasi setelah menjalani proses hukum di pengadilan. “Tolong orang tua, kalau anak pernah tersangkut. Kami susah, paling hanya mengawasi sebatas wajib lapor. Pengawasan melekat adalah tugas ortu,” pesannya.

AKBP Ihsan pun meminta pihak sekolah turut melakukan pengawasan. Seperti memberi tugas yang lebih banyak bagi siswa yang terlibat kasus klitih. “Seperti porsi pengajaran diperbanyak dari siswa lain. Terutama pada pendidikan karakter yang bermanfaat. Bukan merugikan dan menyakiti orang lain,” cetusnya.

Anak-anak itu kini terancam hukuman enam sampai 10 tahun penjara. Salah satunya berinisial MP yang mengaku sudah tiga kali tertangkap. Pemuda 18 tahun ini kedapatan memiliki celurit yang dibuat secara mandiri. Warga Kota Jogja ini juga kedapatan membawa korek api berbentuk pistol. “Pistol beli. Celurit bikin sendiri, belajar di Youtube,” ungkapnya.

Sementara saat ditanya terkait ortunya, ia bungkam. Dia tidak menjawab apa pekerjaan ortunya. “Saya tiga kali ditangkap, sekarang kelas 9 kejar Paket B,” tandasnya. (fat/laz)

Jogja Raya